Sunday, April 29, 2007

Prof KH Ali Yafie (1926 - Sekarang)

Ulama Ahli Fiqh


Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.

Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.


Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.


Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.



Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.


Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.



Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.


Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.



Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain



Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.



Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.



Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971--1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.



Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Friday, April 27, 2007

Generasi Muda DDI Rintis Pendidikan Bergaya Mekah-Kanada


Generasi Muda DDI Rintis Pendidikan Bergaya Mekah-Kanada

MEMASUKI usia 60 tahun, sekelompok generasi muda Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) mencoba melakukan terobosan. Langkah berani yang sebelumnya dinilai tabu sejumlah ulama sepuh ini justru mendapat respon dari kalangan pengurus dan tenaga pendidik di lingkup DDI. Modernisasi metodologi pendidikan di sekolah-sekolah DDI dinilai tak bisa ditunda lagi.

Geliat modernisasi metodologi pendidikan di sekolah DDI itu di awali penelitian selama setahun oleh Lembaga Kajian Masyarakat dan Pesantren (LKMP). Lembaga ini meneliti 34 pesantren terbesar milik DDI di Makassar, Maros, Parepare, dan Wajo.

LKMP merekomendasikan perlunya DDI segera memodernisasi sistem pendidikannya jika tidak ingin tertelan masa dan lekang oleh zaman yang berubah. Hasil survei dan rekomendasi itu lalu disosialisasikan kepada para guru-guru utama sekolah DDI.

Acara yang dilaksanakan di ruang pola Akademi Manajemen Koperasi (Amkop), Toddopuli, Makassar, Juni 2006 ini sekaligus sosialisasi awal metodologi pendidikan moderen. "Semua sekolah DDI yang kami survei mengeluhkan soal metodologi. Kami lalu merancang bentuk sosialisasi dan pelatihan bagi mereka," ujar Direktur LKMP, Syamsul Patinjo, Kamis (26/4).

Sistem pendidikan di DDI mulai berjalan sejak Tahun 1936. Berupa gabungan sistem pendidikan mangngajit tudang (duduk melantai) dan pendidikan sekolah . Sistem ini dirintis Anre Gurutta Haji (AGH) Muhammad As`ad dan AGH Abdurrachma Ambo Dalle. Dua tokoh inilah yang memahat tradisi dan menyulam sajadah panjang sistem pendidikan DDI.

Sistem pendidikan tersebut dibawa AGH As`ad dari Mekah. Ulama ini membuka sekolah Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI) di Sekang, Wajo, Tahun 1928. Sebelumnya, As`ad yang lahir dan besar di Mekah belajar di Masjidil Haram, Mekah. Sejumlah peneliti mengungkapkan, sistem pendidikan di Mekah itulah yang diterapkan As`ad di Sengkang.

Wakil Sekretaris Jenderal PB DDI, Azhar Arsyad, mengatakan, sistem pendidikan mangngajit tudang tidak sepenuhnya harus ditanggalkan di lingkup DDI. Sebab sistem inilah yang justru menjadi sumber berkah yang menghasilkan ulama-ulama besar. "Jadi yang perlu mengawinkan antara sistem pendidikan Mekah dengan Kanada," ujarnya.


Latih Guru DDI Demokratisasi dan HAM

BELAJAR di pesantren dikenal dengan disiplin yang tinggi. Pembina melakukan pengawasan melekat selama 24 jam. Sebab para santri (siswa-siswi) hidup sepondok dengan para pembina. Akibatnya, santri tidak bebas berkreasi dan kerap mengalami gangguan fisik dari santri yang lebih senior.

Ke depan, pendidikan di pesantren, khususnya di pesantren milik DDI berubah. Lembaga Kajian Masyarakat dan Pesantren (LKMP) dalam satu tahun terakhir getol melakukan sosialisasi dan pelatihan sistem pendidikan demokratisasi dan hak azasi manusia (HAM) bagi para tenaga pengajar di sekolah-sekolah DDI.

LKMP melibatkan tim pelatih dan fasilitator dari pakar metodologi pendidikan di Jakarta, alumni pelatihan di Canada, dan Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta.
Inti pelatihan itu, pengenalan sistem fortopolio, yakni pembelajaran aktif. Siswa siswa diajar membahasan, merumuskan, dan memecahkan masalah yang ada.

"Para guru DDI juga kami latih metode pendidikan berbasis demokratisasi dan hak azasi manusia," jelas Direktur LKMP, Syamsul Patinjo, Kamis (26/4).

Puncak dari upaya itu dilakukan LKMP, Senin (30/4), di Hotel Bumi Asih, Jl Jenderal Ratulangie, Makassar. Di depan guru dan pembina utama DDI, LKMP memaparkan hasil akhir dari program sosialsiasi sistem pendidikan moderen di sekolah milik DDI.

Acara tersebut dihadiri pimpinan Pusat Kurikulum Nasional (PKN), Ketua Umum Pengurus Besar (PB) DDI Prof Dr Abdul Muis Kabry, dan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Azhar Arsyad.

LKMP ini lembaga yang bekerja sama dengan PB DDI dalam melakukan survei dan sosialisasi bagi sekolah DDI. Organisasi kemasyarakat (Ormas) Islam yang berpusat di Sulsel ini memiliki 1029 sekolah, delapan perguruan tinggi, 89 pesantren. Cabang DDI tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Termasuk di Mesir dan Johor, Malaysia.


profil DDI:
cikal-bakal: 21 Desember 1938
dideklarasikan: 5 Februari 1947 di Soppeng
pendiri utama: AGH Abd Rahman Ambo Dalle
pendiri:
-AGH Daud Ismail
-AGH M Abduh Pabbajah
-AGH Al Yafie
-AGM M Tahir Imam Lapeo
pengurus wilayah: delapan
pengurus daerah: 274
pengurus cabang: 392
pengurus ranting: 127
sekolah: 1029
perguruan tinggi: 18
pesantren: 89
tersebar di 20 provinsi di Indonesia

badan otonom:
Ummahat DDI (UMDI)
Fatayat DDI (Fadi(
Ikatan Pemuda DDI (IPDDI)
Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI)
Ikatan Guru DDI (IGDI)
Ikatan Alumni DDI (IADI)


perintis dan pendiri
Nama: Muhammad As`ad bin Haji Abdur Rasyid Al Bugisy
Lahir: Mekah, 1907
Wafat: Sengkang, 29 Desember 1952
Pendidikan: belajar lewat pengajian-pengajian yang dilakukan di Masjidil Haram oleh para syekh dan ulama-ulama besar. Menghafap 30 juz Al Quran sejak berumur tujuh tahun.

Nama: Abdurrachmad Ambo Dalle
Lahir: Lahir, Sengkang 1900
Wafat: Makassar, 29 Nopember 1996
Pendidikan: Sekolah Rakyat, sekolah pendidikan guru Muhammadiyah, pengajian klasik di Pulau Salemo (Pangkep), MAI. Sering mengikuti kursus pendidikan dan menghadiri pengajian di Mekah. (as kambie)

** Sumber Bertita:TRIBUN TIMUR MAKASSAR RSS (Jumat, 27-04-2007).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA