Friday, February 6, 2015

GERAKAN PERUBAHAN:


GERAKAN PERUBAHAN JILID DUA
Oleh: Abdurrahman Yanse Al Mahdali

Pondok Pesantren DDI Lil Banin Kaballangang dan Pondok Pesantren DDI Lil banat Ujung lare adalah merupakan peninggalan AGH.Abd.Rahman Ambo Dalle dalam membangun moral umat Islam. Sejarah telah banyak membuktikan hal itu, sejak Meninggalkan MAI Sengkang, Gurutta secara terus-menerus menggerakkan perjuangan lewat jalur pendidikan Pondok Pesantren di sulawesi.

Kini, setelah beliau wafat, ada kekhwatiran pesantren pesantren yang ditinggalkanya kini semakin terpuruk dan kehilangang roh, terutama ketika kepala suku yang berkuasa disana belum siap menerima perubahan dan cendrung melihat agenda perubahan itu sebagai momok yang menakutkan, sehingga harus dibendung dan dilawan, terlebih lagi setelah melihat Gerakan Perubahan yang di motori Alumni telah berhasil menumbangkan PB DDI.

Gerakan perubahan yang menuntut percepatan rekontruksi Pondok Pesantren peninggalan Gurutta segara diwujudkan, bahkan menganggap Muktamar DDI ke XXI disudian adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan perubahan yang tertunda sebelumnya, yang diawali dengan orasi keprihatinna Alumni di Pondok Pesantren DDI Kaballangang, tetap mengharapkan PB DDI baru segera merekontruksi ke dua Pondok Pesantren peninggalan Gurutta itu sebelum menghabiskan energy mengurusi sertivikasi DDI menjadi Ormas Nasional.

Munculnya gerakan perubahan yang mendesak percepatan rekontruksi Pondok Pesantren peninggalan Gurutta ini terus menuai pro dan kontra, sejumlah pihak menilai gerakan percepatan ini sebagai Gerakan Perubahan Jilid Dua dan yang sangat realistis karena menganggap agenda perubahan tidak sama dengan agenda penyatuan DDI yang penunggu persetujuan DDI AD.

Meski agenda perubahan sudah menjadi Program PB DDI, namun sebagian Alumni merasa kecewa dan menggap gerakan perubahan yang selama ini diperjuangkan, telah ditunggangi oleh kepentingan yang berbeda dengan aspirasi Alumni. Hal itu semakin diperkuat dengan di prioritaskannya agenda pembenahan internal PB DDI yang diniai sebagi pengalihan Issu yang menghambat agenda perubahan yang diharapkan, terlebih lagi langkah PB DDI yang sulit menentukan sikap dan cendrung melihat kedua Pondok Pesantren peninggalan Gurutta itu sama dengan PB DDI sebelumnya, hanya sebatas aset PB DDI yang tidak perlu diganggu gugat.

Karena itu Gerakan Perubahan Jilid Dua yang diperjuangkan Ikatan Alumni Kaballlangang (IAPDIKA) dan Forum Alumni Ujung Lare (Fadila) terus berlanjut dan menuntut agar Habitatnya Pontren DDI Lil Banin Kaballangang dan Pontren DDI Lil Banat Parepare segera di rekontruksi dan dikembalikan Kejayaannya..

Sementara sebagian Alumni mencoba memaklumi situasi PB DDI yang usia kepengurusannya masih bayi, agar lebih fokus membenahi internal PB DDI, sebelum melakukan perubahan, mereka menilai bahwa PB DDI mekipun terpilih secara akalamasi tapi secara internal belum kuat, dan mudah di obok obok, terlebih lagi masih banyak yang melihat agenda perubahan itu sebagai momok yang menakutkan sehingga perubahan apapun yang dilakukan sulit diterima.

Tapi Sebagian Alumni yang ingin melihat proses perubahan segera diwujudkan, mulai tidak sabaran, dan satu persatu menghilang dikomunitas, tapi sebagian melihat bahwa agenda perubahan harus terus dikawal, terlebih lagi jika melihat persoalan yang diwariskan PB DDI sebelumnya, masih sulit diprediksi sehingga Gerakan Perubahan Jilid Dua harus di hidupkan kembali.

Saat ini sudah tampak gejala bahwa kepala kepala suku yang berkuasa di Pondok Pesantren DDI peninggalan gurutta telah melakukan manuver-manuver politik yang mengarah kepada upaya inskonstitusional untuk mengembalikan suasana kepada pola pikir atau paradigma lama. Bahkan kepada upaya mengembalikan startegi rezim lama yang bernuansa anti perubahan.

Kondisi yang tidak diharapkan seperti ini, perlahan mulai muncul, permasalahan utama sebagaimana yang terjadi di Pontren DDI Lil Banat adalah eksestensi Pimpinan Pondok Pesantren yang di Skkan PB DDI, tidak diberi peranan dalam mengelola pondok pesantrennya sendiri. hal itu semakin diperkuat dengan diterbitkannya SKB, (Surat Keputusan Bersama) antara Kepala Madrasah Aliah dan Tsanawiyah yang menetapkan struktur pengurus atas nama pembina Osis, Perwakilan Kelas dan Pengurus Osis untuk mengatur semua kegiatan dalam lingkup Pondok Pesantren, sehingga Posisi Pimpinan Pondok Pesanten yang seharusnya diberi kewenangang mengatur semua kegiatan santri dan Guru guru diluar kegiatan formal disekolah dikebiri dan diambil alih oleh para kepala kepala suku, semakin banyak jenjang pendidikan dipondok Pesantren Peninggalan Gurutta itu semakin banyak pula kepala suku yang berkuasa disana, hal ini menunjukkan bahwa masih kuatnya pradikma lama yang menilai kepemimpinan dipondok pesantren Peninggalan Gurutta tergantung dari rezim mana yang berkuasa di PB DDI.

Karena itu rekontruksi Pondok Pesantren DDI peniggalan Gurutta, tidak cukup hanya dengan menggunakan pendekatan kekuasaan atau menempatkan kiyai Kharismatik, tapi juga dibutuhkan pertama adalah sistem atau statuta yang dapat memproteksi kedudukan Pimpinan Pondok pesantren yang di SK kan PB DDI, agar bisa berfungsi sebagai Tuan Rumah dalam rumah Tangganya sendiri.

Yang Kedua, kepala suku yang ber profesi sebagai Kepala Madrasah dari semua jengjang pendidikan yang ada di pondok Pesantren Peninggalan Gurutta, harus dikocok Ulang dan melewati proses seleksi pemilihan dengan keriteria minimal.

·         Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S2) atau (S1) kependidikan atau non-kependidikan.

·         Memiliki masa pengabdian di Pondok Pesantren DDI peninggalan Gurutta sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun

·         Berstatus sebagai guru tetap yang mengajar penuh, minimal 5 hari masa kerja dalam satu pekan

·         Memiliki background/latarbelakang pendidikan pesantren DDI

·         Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan yang baik.

·         Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin dan keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala madrasah.

·         Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi kepala madrasah

·         Besedia menyusun program kerja kepala madrasah beserta target pencapaiannya

·         Bersedia dan sanggup melaksanakan program kerja kepala madrasah dengan penuh tanggungjawab

·         Bersedia mengikuti peraturan/kebijakan pesantren baik yang tertulis atau yang tidak tertulis yang ditetapkan Pimpinan Pondok Pesantren

·         Bersedia bekerja penuh waktu dari pukul 07.00 s/d 13.00 WIB
Sementara makanisme pemiihannya minimal harus melalui proses :

·         Bersedia mengikuti Proses seleksi calon Kepala Madrasah secara langsung, bebas dan rahasia melelui rapat Majli Guru

·         Harus mendapat restu dari Pimpinan Pesantren sebelum memasuki tahap pemilihan.

·         Minimal harus mengantongi dukungan 50%+1 suara yang diperebutkan
Sementara untuk masa jabatan dan peralihan kepala madrasah cukup mengikuti ketentuan bahwa

·         Kepala Madrasah dipilih untuk masa jabatan 4 tahun dan tidak dapat dipilh kembali untuk periode berikutnya

·         Kepala Madrasah bisa dibebas tugaskan jika melanggar peraturan pesantren dan Pelanggaran yang dimaksud adalah:

a)      Melakukan tindakan asusila baik di dalam maupun di luar lingkungan

b)      Melalaikan tugas sebagai kepala Madrasah

c)      Melakukan tindak penyelewengan jabatan untuk kepentingan pribadi atau golongan

·         Apabila kepala madrasah berhalangan tetap sebelum masa jabatan berakhir, maka tugas dan jabatan diserahkan kepada pimpinan pesantren untuk ditetapkan penggantinya yang jelas Secara Umum Pimpinan Pondok Pesantren Peninggalan Gurutta ditetapkan oleh Pengurus Besar DDI (PB DDI) dan mempunyai Tugas dan tanggung jawab meliputi :

1.      Memimpin dan mengasuh para guru dan santri dan sekaligus penanggung jawab jalannya proses pendidikan di Pondok Pesantren

2.      Menetapkan jabatan pelaksana harian dalam strukur kepengerusan dipesantren

3.      Menetapkan pembagian tugas pokok dan fungsi masing-masing unsur dalam struktur kepengurusan Pondok Pesantren.

4.      Menerima pertanggung jawaban pengunaan Anggaran diPondok Pesantren

5.      Menetapkan status tenaga pendidik (ustadz/ustadzah)

6.      Menetapkan Panitia penerimaan santri baru

7.      Menetapkan panitia penyelenggara Ujian.

8.      Tegas dalam bertindak, tidak mudah diintervensi apalagi dikebiri kewenagannya.

 

Saturday, January 24, 2015

MENCIPTAKAN MILITANSI DDI ERA PASSELLE PASAU:


Membangun Kemajuan dan Militansi Masyarakat DDI

Oleh: Med HATTA

Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) merupakan salah satu ormas Islam terkemuka nasional, bahkan terbesar di Indonesia Timur yang didirikan oleh sekelompok alim ulama sunni Sulawesi Selatan dan Barat di bawah pimpinan Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle (1900-1996), melalui sebuah forum “Tudang Sipulung (Musyawarah) Alim Ulama” di Watang Soppeng tahun 1938. Dan tokoh yang disebutkan terakhir ini disebut sebagai founding father dan pemimpin tertinggi DDI hingga Beliau wafat tahun 1996.  

DDI – sesuai namanya – yang menitik beratkan misinya pada bidang pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan ini telah mengalami pasang-surut dalam perjalanannya dan mencapai puncak kejayaannya pada era ’80-an hingga tahun 1998. Seperti kata pameo bahwa ketahanan suatu konsep sangat ditentukan oleh sebuah ide dasar dan siapa yang mencetuskannya, maka DDI setelah pemimpin kharismatiknya tiada, sinarnya pun perlahan redup bahkan terpecah menjadi dua belahan besar dan sisanya terkotak-kotakkan, yang mengakibatkan DDI mengalami kemunduran dan tertinggal dari omas-ormas lainnya.

Beruntung Gurutta Ambo Dalle semasa hidupnya telah membangun sebuah ikatan emosional yang kuat di antara murid-muridnya, sehingga lahir istilah anak-anak biologis dan idologis yang senantiasa loyal dan mencintai sang mahaguru. Maka dari murid-murid (Baca: kelompok) militan inilah kemudian menjadi penggerak perubahan. Semangat mereka bagaikan badai yang tidak dapat dibendung menuntut segera  diadakan penyatuan dan memajukan DDI seperti masa-masa kejayaannya ketika Gurutta masih hidup, bahkan lebih men-dunia dari sebelum-sebelumnya.  

Berbagai gebrakan yang telah dilakukan oleh kelompok militan DDI ini, mulai dari membentuk kelompok-kelompok alumni berdasarkan almamater seperti “Ikatan Alumni Pesantren DDI Kaballangang” (IAPDIKA). “Ikatan Alumni DDI Abdurrahman Ambo Dalle” (IADAD) dan “Forum Alumni DDI Ujung Lare” (FADILA), serta puncaknya bergabung dalam sebuah solidaritas nasional Alumni DDI dan menyelenggarakan sebuah seminar nasional, yang dikenal dengan “Tudang Sipulung Nasional (TSN) Alim Ulama DDI”, di Pondok Gede, Jakarta (31/ 3/ 2014).

Meskipun belum dilaksanakan muktamar bersama penyatuan seperti rekomendasi TSN, tetapi setelah muktamar PB DDI di Sudiang pada 19-21 Des 2014 lalu, dengan memilih secara aklamasi DR. KH. MA. Rusdy Ambo Dalle sebagai ketua umum PB DDI periode 2014-2019, maka secara de facto DDI telah dinyatakan ‘bersatu’, karena masih ada beberapa mekanisme administrasi yang harus diseesuaikan oleh kedua belah pihak, yaitu antara KH. MA Rusdy Ambo Dalle (Ketum PB DDI) dengan AGH. M Faried Wajedy (Rais Am PP DDI AD), secara kekeluargaan.

Budaya dan Kekuasaan Melahirkan Militansi DDI Era Passelle Pasau:

Belajar dari pengalaman masa lalu, maka DDI modern tidak ada pilihan lain kecuali harus bangkit membangun kemajuannya kembali untuk bersaing dengan ormas-ormas besar nasional dan internasional, dan meraih Purnama DDI seperti yang dicita-citakan oleh (almaghfuru-lahu) Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Dan – kini – tanggung jawab ini telah berada pada tangan yang benar, jatuh kepada Passelle Pasau-na Gurutta Ambo Dalle, putra biologis sekaligus idiologis Beliau langsung, yaitu Dr. KH. MA. Rusdy Ambo Dalle.

Oleh karena itu, untuk membangun kemajuan DDI sangat dibutuhkan sebuah konsensus nilai yang ingin dikembangkan atau diterapkan dalam masyarakat DDI. Konsensus itu berupa ide-ide tentang wacana dan diskursus untuk menjadi nilai-nilai community of DDI building. Dan itu sudah diletakkan oleh Gurutta Ambo Dalle selama hidupnya. Ketika nilai-nilai itu telah kita sepakati bersama maka dalam aplikasinya dibutuhkan tangan-tangan kekuasaan agar efektif, cepat dan tepat dalam pembentukannya pada masyarakat dan warga DDI Global yang militan.

Kekuasaan selalu melekat dengan sebuah diskursus tertentu, khususnya diskursus budaya (Baca: pengetahuan) sebagai sumber kuasa dan kekuasaan itu sendiri. Menurut pakar sosiolog; kebenaran suatu diskursus tergantung pada apa yang dikatakan, terutama siapa yang mengatakan, dan kapan serta dalam kontes apa ia mengatakannya. Dengan demikian, seorang pemimpin yang berkuasa akan dapat memberi pengaruh signifikan terhadap kekuasaannya. Maka tidak heran jika siklus perubahan pada tatanan masyarakat hanya bisa dibentuk dari cita-cita luhur seorang penguasa yang mengabdikan diri untuk masyarakatnya secara ikhlas.

Kontribusi nilai kebaikan akan mudah dicapai bila kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin dapat dirasakan sebagai teladan "amar ma'ruf nahi munkar" tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan mazhab. Kebaikan-kebaikan formalistik yang mengindikasikan terwujudnya nilai-nilai universal sebagai frame sebuah ficture komunitas yang lahir dari kedalaman nilai budaya.

Tulisan ini tidak ingin menyebutkan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin masyarakat DDI modern era Passelle Pasau, tetapi sebagai gambaran Al Quran telah banyak menceritakan type dan karakter pemimpin dan kekuasaan pada beberapa ayat sucinya, mulai dari penguasa-penguasa local sampai kepada penguasa dunia atau pemimpin bangsa besar sekaliber Namrud, Fir’aun, Sulaiman, Zul Karnaen dan teladan pemimpin terbesar Dunia nabi Muhammad SAW. Mereka telah membangun imperium yang sangat besar dipermukaan bumi, menguasai seluruh belahan Barat dan Timur dunia, yang belum ada tandingannya hingga kini.

Raja Firaun misalnya, ia telah mencurahkan segala pengetahuan dan kepiwaiannya membangun sebuah peradaban bangsa yang sangat tnggi di masanya. Peninggalan-peninggalan sejarah yang pernah dibangun di hilir sungai Nil - Mesir berupa situs-situs bersejarah seperti struktur kota modern, oplis di Aswan, ma’bad Karnak, pemakaman raja-raja di Luxor dan beberapa piramid besar dan kecil yang tersebar diberbagai wilayah Mesir menunjukkan betapa tinggi peradaban manusia yang bangunnya.

Sungai Nil yang di bendung menjadi irigasi yang mengairi lembah padang pasir tandus menjadi subur penuh pepohonan dan tanaman-tanaman produktif yang memberi penghasilan bagi masyarakat Mesir kuno membuktikan bahwa Firaun adalah seorang raja besar yang mengabdikan diri bagi rakyatnya, perdagangan yang maju pesat hingga menjangkau hamper seluruh kawasan terutama wilayah Timur dan Tengah benua Afrika serta kawasan Mediterania bagian Timur memberikan kontribusi pembangunan ekonomi bagi bangsanya.

Dibidang pengembangan kebudayaan, sastra, sistem tulis-menulis, seni, teknologi dan arsitektur, Fir’aun telah menunjukkan keunggulan budaya bangsanya. Belum lagi keadidayaan militernya yang tak tertandingi serta ditakuti oleh musuh-musuh yang mengancamnya sehingga masyarakat negeri Mesir kuno aman dan stabilitas perekonomiannya terjamin. Semua itu menjadi faktor keberhasilan Fir’aun membangun sebuah peradaban bangsa besar yang pernah ada di muka bumi, yang menginsfirasi lahirnya peradaban-peradaban manusia modern.

Namun, disayangkan capaian Fir’aun itu tidak menjadikannya sosok penguasa yang rendah hati dan berlaku adil bagi rakyatnya justru Fira’un terbentuk menjadi karakter penguasa yang semena-mena dan sombong atas keunggulan budaya dan kekuasaannya, dan mencapai klimaksnya ia menjadikan dirinya sebagai sosok tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Suara rakyat bukan lagi menjadi suara tuhan tetapi suara Fir’aun itulah sebagai suara tuhan, wal’iuadzu billah. Sehingga Allah membinasakannya di tengah laut bersama dengan bala tentaranya.

Karakter yang jauh berbeda dengan Fir’aun, sekitar 4000 tahun sesudahnya, lahir seorang rasul di Jazirah Arabia, nabi besar Muhammad SAW mulai mengembangkan pengetahuan (risalah)nya tanpa memiliki kekuasaan memadai di kota Makkah, kecuali hanya keimanan dan budi luhur saja. Maka nilai-nilai dan risalah perubahan yang diembannya menjadi bahan cemoohan dan olok-olokan dikalangan mayoritas  bangsawan Quraisy, bahkan menimbulkan kemarahan massal karena dianggap telah mengganggu sensitifitas tradisi lokal masyarakatnya, dan menodai kepercayaan leluhur mereka.

Oleh karena itu, maka langkah awal yang dilakukan nabi Muhammad SAW adalah dengan mengkomunikasikan dakwah dan pengetahuannya di tengah-tengah masyarakat Quraisy Makkah dengan cara tertutup atau dikenal “da’wah bissir”, Beliau menyampaikan dakwah pembaharuannya dengan cara berbisik-bisik di antara keluarga, teman-teman dan kerabat-kerabat terdekatnya. Nabi melakukan itu bukan karena belum datang kepadanya perintah Allah untuk melakukan dakwah massal, tetapi hal itu lebih disebabkan karena Beliau tidak mempunyai dukungan kekuasaan yang melekat pada dirinya.

Selama tiga tahun membangun dakwah dengan cara tertutup semenjak dinobatkan menjadi nabi dan rasul pada usia 40 tahun, tentu tidaklah mendapatkan dukungan kukuasaan yang memadai melainkan hanya disambut oleh kelompok orang-orang lemah dan budak-budak sahaja saja. Lalu selanjutnya Allah memerintahkan kepada nabi melakukan dakwah massal terbuka di kota Makkah, maka sejak itu pula Muhammad SAW mendapatkan protes dan tekanan keras dari bangsawan Quraisy yang merasa terganggu dengan cara-cara dakwah massal itu.

Beberapa kali pemuka bangsa Arab mendatangi paman nabi Abu Thalib meminta agar ia mau menghentikan ocehan keponakannya yang dianggap menyinggung nilai-nilai traditional leluhur mereka. Namun, negoisasi itu selalu berakhir tanpa ada respon apapun dari Abu Thalib sampai pada akhirnya paman nabi yang tercinta itu meninggal dunia di saat-saat nabi masih membutuhkan ke tokohannya sebagai pelindung aktifitas dakwahnya.

Maka semenjak  kepergian Abu Thalib itulah serial cercaan, ancaman, siksaan, dan berbagai penganiayaan lainnya mulai dilancarkan oleh kaum Quraisy jahiliyah, dan langsung dirasakan nabi Muhammad SAW dan pengikutnya. Dan keadaan seperti itu hampir sepuluh tahun dirasakan umat Islam di Makkah sebelum diputuskan untuk pindah ke Yastrib yaitu Madinah - saat ini. Dan di Madinah, barulah nabi Muhammad SAW dapat mengekspresikan pengetahuannya dengan memiliki kekuasaan sebagai Imam dan pemimpin kekuasaan umat Islam pertama Madinah.

Sejarah dua kekuasaan besar di atas menginspirasi bahwa peran kekuasaan mampu mendorong penciptaan peradaban sesuai persepsi pemimpin/ penguasa dengan menerapkankan pengetahuan (budaya) sesuai orientasi yang ingin dicapainya. Atau relasional budaya dan kekuasaan saling berkontribusi untuk memuluskan perjalanan kekuasaan itu sendiri secara produktif. Dengan demikian, budaya atau pengetahuan dalam kekuasaan itu haruslah membawa dampak maslahat yang diformulasikan dalam perbaikan dan pembangunan.  

Peran Passelle Pasau Membangun Budaya Militan DDI:

Jika hal ini ingin ditrasfermasikan kepada peran yang harus dilakoni Passelle Pasau dalam membangun masyarakat DDI yang militan, loyal dan mencintai penguasa serta kekuasaannya, secara sederhana ditekankan kepada tiga hal prinsip:

Pertama: Passelle pasau yang berkuasa harus memenuhi hajat kebutuhan spiritual bagi masyarakatnya secara proporsional sesuai konsensus DDI yang telah diletakkan dan diteladankan oleh Gurutta Ambo Dalle;

Kedua: Membangun ormas DDI bersatu, maju, besar secara nasional dan mampu bersaing dilevel internasional; menjadikan sekolah-sekolah, pesantren dan lembaga pendidikan tinggi, serta lembaga-lembaga pendukung ormas DDI lainnya sebagai menara-menara budaya, dakwah dan social kemasyarakatan di negeri ini dan terpandang di dunia internasional. Dan penguasa passelle pasau harus menampilkan DDI sebagai ormas yang mandiri secara ekonomi dengan mengembangkan aset-aset produktif organisasi menjadi sumber-sumber perekonomian masyarakat DDI, dengan tidak membiarkan adanya kesenjangan sosial dalam peningkatan sumber daya manusia terutama dalam pemenuhan hak-hak intelektualitas sebagai penopang kemajuan peradaban luhur.

Ketiga: Passelle Pasau penguasa harus lebih arif dan bijaksana dalam menanamkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan dengan sangat elegan layaknya passelle pasau benar-benar memahami wacana-wacana universal diantara perbedaan-perbedan suku, ras dan wawasan dalam struktur masyarakat DDI.

Prinsip-prinsip inilah yang membuat keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam menggunakan kekuasaannya sehingga menciptakan militansi, loyalitas dan kecintaan pengikutnya dalam menerima dakwanya, dan ini pula yang telah diteladankan Gurutta Ambo Dalle dalam mengembangkan DDI.  Dan tentu saja prinsip-prinsip ini dilupakan oleh Fir’aun laknatullah ...  

Wednesday, December 24, 2014

VICTORY SPEECH OLEH KETUA PB DDI TERPILIH :

BERPIJAK PADA MABDA DAN TRADISI DDI
KITA MENYONGSONG ERA BARU MENUJU PENYATUAN DAN PERSATUAN DDI
OLEH: DR. KH. MA Rusdy Ambo Dalle
 

الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان، وصلى الله على جميع الأنبياء والمرسلين، وعلى خاتم النبيين محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد.



Hadirin muktamirin dan muktamirat yang saya hormati.
Serta keluarga besar DDI yang saya cintai yang hadir pada hari yang bersejarah ini.

Syukur Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah, karena telah memberi kita kesempatan untuk berdamai dengan waktu, dan melalui kelapangan waktu itulah kita dapat berkumpul dan bersilaturrahim pada saati ini, sebuah momen yang sangat penting dalam sejarah perjalanan DDI, lembaga Islam yang lahir ditengah-tengah kancah perjuangan, bergolak mengawal kemerdekaan, dan mendapat tempat yang terhormat ketika kemerdekaan diraih yakni sebagai salah satu lembaga Islam terbaik di Indoesia dengan menempati urutan ke tiga setelah NU dan Muhammadiyah. Tapi sejarah juga mencatat, bahwa ketika satu demi satu the founding father DDI menghadap kepada sang Pencipta, sayup-sayup mentari DDI pun mulai meredup sinarnya, tanpa pijar dan harapan, bahkan bercerai-berai, terpecah, dan terbelah dua. Sebuah tragedi sejarah yang miris dan memilukan.

Karena itu, saya menyambut gembira diadakannya Muktamar ini, dan berterima kasih kepada panitia karena memberi kesempatan kepada saya untuk tampil berbicara di hadapan Bapak/Ibu. Sungguh sangat sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan saat ini lewat kata-kata, karena sebuah kata justru akan mereduksi makna. Apa yang kita harapkan dan inginkan bersama bahwa Muktamar DDI ini bisa menjadi awal gerak maju organisasi DDI ke depan. DDI yang satu dan modern, dan hal yang paling dibutuhkan adalah mengembalikan semangat kebersamaan, kesatuan, seperti yang telah ditanamkan oleh para pendiri DDI, dan untuk mencapai semua itu dibutuhkan tiga hal:
  1. Menghilangkan rasa ingin mengusai orang lain.
  2. Menghilangkan rasa kecurigaan.
  3. Tidak merasa yang paling benar.




مهما كنت رائيا وكريما وطيبا ستجد من لا يحبك لأسباب لا تعرفها , فلا تنزعج كثيرا


Tradisi DDI yang berpijak pada budaya Sulawesi Selatan dan Barat, mengatakan bahwa maliq siparappe, rebba sipatokkong, pada idiq pada eloq (hanyut saling menyelamatkan, rebah saling menegakkan, (tapi) di antara kita saling punya keinginan masing-masing). Ungkapan ini mengajarkan kepada kita tentang dua hal, yakni makna sosial dan makna individual. Makna sosial intinya adalah saling menghargai, saling menyayangi, saling dukung, saling menghormati, saling membantu, yang intinya mengajarkan kita tentang hubungan yang resiprokal , bukan sepihak, mau menang sendiri dan merasa diri yang paling benar. Tapi pada sisi yang lain, budaya ini juga mengajarkan kepada kita, untuk menjadi diri kita secara utuh, yang punya perasaan, keinginan, dan kehendak. Agar aturan sosial maupun aspirasi individual tidak kebablasan, maka ia dikontrol dan dipayungi oleh budaya agung orang Sulawesi Selatan dan Barat dengan apa yang dikenal siriq na pesse. Siriq mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi harga diri, maruah, dan rasa malu, yang diikat oleh pesse yaitu rasa solidaritas yang tinggi. Dalam ungkapan Bugis dikatakan, yakko deq na siriqmu mamuare engka menneng mupa pessemu, apabila sudah tidak ada siriq-mu, setidaknya engkau masih punya pesse. Sehingga ajaran ini menekankan bahwa bahwa tau deqe siriqna tania tau rupa tau mani asenna, orang yang tidak punya siriq bukan lagi manusia hanya bermuka manusia saja. Inilah yang menjadi pedoman dan tradisi DDI yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para ulama dalam berinteraksi kepada sesama ulama, kepada murid, dan kepada masyarakat umum.



Para hadirin yang saya hormati
Atas dasar keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa DDI bisa berubah, maka akhirnya saya tampil berdiri di hadapan para bapak-bapak dan ibu-ibu saat ini, dengan niat untuk mengembalikan tradisi DDI yang telah digerogoti oleh zaman. Zaman yang menempatkan materi dan nafsu duniawi sebagai ukurannya. Mari kita bersama-sama bekerja keras, dan dengan sekuat tenaga dan kemampuan, dan dengan keyakinan yang kuat pula Insya Allah DDI bersatu kembali, bersama-sama dengan kita berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan, dalam usaha menjadikan DDI sebagai lembaga modern yang tetap berpijak pada Mabda DDI dan tradisi DDI yang dikembangkan oleh para ulama DDI.


Dalam berbagai kunjungan kami ke beberapa cabang DDI di Indonesia, maka situasi yang kami temukan sangatlah miris dan memprihatinkan, sebagian DDI telah mati, setengah hidup, dan yang hidup dan bertahan pun pada umunya masih tertinggal, itu kalau kita mengacu pada pensyaratan sebuah institusi pendidikan modern, school must strike a healthy balance between ideslism and commercialism if they are to become respectable and durable educasional institution. Sebuah lembaga pendidikan hanya mampu bertahan dan survive apabila mampu menyeimbangkan antara idealisme dan pendapatan yang diperoleh demi untuk membiayai kelangsungan hidupnya.


Di samping di bidang pendidikan dan dakwah, kita juga perlu memberi attention terhadap issu-issu global seperti Hak Asazi Manusia (HAM), lingkungan hidup, dan terorisme. Kita harus mengembangkan Badan-Badan Otonom DDI agar tidak hanya terjebak dalam kegiatan rutinitas yang beku, tapi mereka harus mampu menerjemahkan gejolak zaman. Tema-tema sosial yang kini lagi trend dan banyak diminati seperti masalah etnisitas, loyalitas kelompok, harkat manusia, balas dendam, bunuh diri, adat dan kesukuaan, konflik agama, tradisi besar dan kecil, toleransi, global versus pluralism, merupakan issu-issu global yang harus ditanggapi secara serius dan diharapkan DDI dapat memberikan kontribusinya dalam mengatasi berbagai konflik yang ditimbulkannya .


Hadirin muktamiriin dan muktamiraat yang saya hormati
Mengutip Bertolt Brecht dalam sebuah prosanya;
kekeliruan dan kemajuan:
Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, kita tidak akan mengira bahwa kita akan melakukan kesalahan-kesalahan, dan kita jalan di tempat. Karena itu, kita harus memikirkan mereka yang akan meneruskan pekerjaan kita, hanya dengan begitulah, kita dapat menghindarkan bahwa sesuatu telah selesai.

إن شاء الله، يبقى الحب والإحترام بيننا كلنا أيد واحد، وكلنا الداريين من الله المستعان وعليه التكلان والسلام عليكم



Jakarta, 18 Desember 2014

Tuesday, December 16, 2014

MUKTAMAR PB DDI DAN ASA YANG MENGGANTUNG:

Ukhuwah Addariyah
Oleh: AAS Said
Muktamar ke-21 yang dilaksanakan oleh PB DDI mengusung tema yang menggambarkan harapan besar dan bersemai di hati jutaan warga Darud Da'wah wal-Irsyad (DDI), merajut "Ukhuwah Addariyah". Sayangnya, pintu masuk ke arah terwujudnya ukhuwah addariyah sudah ditutup sebelumnya. Tampaknya, cara pandang organisasi yang legal formalistik, lebih penting dari pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu penyatuan DDI.


Karena cara pandang seperti itu, Tudang Sipulung Nasional (TSN) Alim Ulama DDI di Pondok Gede Jakarta yang melahirkan Deklarasi Pondok Gede justru dianggap ilegal dan karena itu keputusannya tidak mengikat. Padahal, kalau kita mau sedikit berbesar hati dengan menempatkan kepentingan DDI yang lebih besar, TSN AU dan Deklarasi Pondok Gede semestinya dipandang sebagai solusi bermartabat dan pintu masuk menuju penyatuan DDI, tanpa ada pihak yang merasa tertinggal atau terlecehkan.


Andaikan muktamar ke-21 ini terlaksana sesuai dengan hasil Deklarasi Pondok Gede, kita akan menyaksikan muktamar kali ini yang bertul-betul sarat dengan ukhuwah addariyah, sebagimana tema yang diusung panitia. Bahkan, tanpa mengangkat tema itu pun, ukhuwah itu akan tercipta dengan sendirix di medan muktamar karena pada dasarnya para peserta diikat oleh satu komitemen yang sama, semuanya mengaku sebagai anak-anaknya Gurutta.


Tapi, sudahlah. Kita tidak perlu berandai-andai karena faktanya sebentar lagi muktamar itu akan terlaksana. Kita hanya bisa menitip harapan kepada panitia dan peserta. Semoga mereka menyadari akan pentingnya peranan mereka dalam menentukan masa depan DDI, apakah akan meneruskan konflik yang membuat DDI kian terpuruk atau akan membebaskan DDI dari segala macam konflik kepentingan. Semoga muktamar kali ini terbebas dari segala macam intrik-intrik sebagaimana yang sering terjadi dalam muktamar sebelumnya.

Selamat bermuktamar untuk saudara-saudaraku. Wallahul Mustaan Waalaihit Tiklan

Thursday, November 20, 2014

My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: KURSI ALLAH YANG SUPER-SUPER LUAS:

Istilah
kursi yang dinisbahkan kepada Allah SWT tidak disebutkan di dalam Al Quran
kecuali hanya sekali saja, yaitu pada ayat ke-255 dari surah Al Baqarah (002),
yang juga dikenal dengan ayat kursi. Sebagaima tidak ada yang mengetahui bentuk
dan dimemsi (luas) makhluk yang disebut "Kursi Allah" itu kecuali apa yang telah
diceritakan Al Quran pada ayat kajian; bahwa luasnya sama dengan dimemsi tujuh
langit dan tujuh bumi. Berapakah dimemsi Luas Kursi Allah Itu?  (My Buku
Kuning
)
My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: KURSI ALLAH YANG SUPER-SUPER LUAS:: Serial : 99 Perumpamaan LIVE Al Quran ( 02 ): Kursi Allah Seluas Langit dan Bumi Oleh: Med HATTA   Istilah kursi yang dinisbahk...

Wednesday, September 10, 2014

MUKTAMAR PB DDI 2014 TERANCAM BATAL:

Melanggar Deklarasi Tudang Sipulung Alim Ulama, Muktamar PB DDI Terancam Gagal:

Oleh: Med HATTA

SEBAGAIMANA diketahui masih beberapa bulan lagi rencana 'pelaksanaan' muktamar ‪#sepihak‬ Pengurus Besar Darud Da'wah wal-Irsyad (PB DDI) (22-23 Nop '14), sudah diterpa ancaman akan gagal lagi setelah tertunda pelaksanaannya dari jadwal aslinya bulan Februari 2014. Ancaman kegagalan muktamar ini akibat tersebar isu-isu negatif di Media Sosial (MedSos) berkenaan dengan 'rencana' perhelatan demokrasi DDI yang dilaksanakan sekali 4 tahun itu. Muktamar ‪#separuh‬ DDI ini merupakan pertama kali akan diselenggarakan pasca wafat Prof. Dr. Abdul Muiz Kabry (MK), yang hampir dipastikan akan diwarnai berbagai rekayasa hitam, intrik-intrik dan kecurangan-kecurangan terorganisir sebagaiman telah menjadi ‪#trade_mark‬ rezim separuh DDI itu.



Darud Da'wah wal-Irsyad atau sering disinkat (DDI), yaitu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) terbesar di Indonesia Timur yang bergerak dibidang dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Awalnya adalah sebuah sekolah Islam bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) didirikan oleh - Almaghfuru lahu - Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle di Mangkoso, Soppeng Riaja (masuk Wilayah Kab. Berru: Sekarang), pada Rabu 20 Zulkaidah 1357 H. atau 11 Januari 1938. Kemudian berubah nama menjadi Darud Da'wah wal-Irsyad (DDI) melalui acara Tudang Sipulung Alim Ulama Sulawesi di Watang Soppeng tahun 1947, maka dari semenjak hari itulah DDI dipimpin oleh Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle hingga Beliau wafat tahun 1996.

Sebagai Ormas besar, DDI telah mengalami pasang surut yang mewarnai perjalanannya selama lebih setengah abad, dan mencapai puncaknya pada tahun 80-an sampai akhir 90-an. Dan akhirnya, takdir tidak bisa dihindari ormas besar ini pun terpecah menjadi dua pusat administrasi yang masing-masing independen, yaitu Pengurus Besar Darud Da'wah wal-Irsyad (PB DDI) yang berpusat di Parepare; dan Pengurus Pusat Darud Da'wah wal-Irsyad Abdurrahman Ambo Dalle (PP DDI-AD), berpusat di Mangkoso. Namun dari segi pengembangannya, PP DDI-AD lebih populer dari rivalnya karena yang terakhir ini didukung penuh oleh Alim Ulama dan tookoh-tokoh sentral DDI serta kualitas dan kuantitas cabang-cabangnya jauh lebih unggul PP DDI-AD dari pada PB DDI yang hanya mampu jalan ditempat, bahkan sangat mundur.

Kembali kepada tema di atas, perihal ancaman pembatalan muktamar 'sepihak' oleh PB DDI adalah berasal dari wacana 'penolakan' para alim ulama DDI, tokoh-tokoh sentral DDI, solidaritas alumni dan simpatisan DDI dan elemen-elemen lain yang terkait dengan organisasi DDI. Pasalnya karena PB DDI dinilai tidak becus mengurus organisasi sehingga mengalami 'kemunduran' besar yang nyaris saja menghancurkan DDI secara tidak profesional. Terakhir telah sengaja menelantarkan DDI dengan tidak melaksanakan muktamar yang diamanahkan muktamar ke-XX sesuai jadwal aslinya (Februari 2014), dimana membuat ke-vakuman tidak perlu dalam ormas sebesar DDI. Dan pelanggaran ini saja cukup bagi para warga DDI 'men-demesioner' PB DDI sekarang.

Menambah parah lagi, adalah PB DDI telah sengaja melanggar "Deklarasi Pondok Gede" yaitu hasil kesepakatan Tudang Sipulung Nasional (TSN) Alim Ulama DDI yang menyerukan agar ormas DDI kembali ke mabda' dan menyatukan kembali organisasi dengan melaksanakan muktamar bersama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, diprakarsai oleh Almukarram Gurutta KH. M. Ali Yafie dan Bapak Drs. HM. Aksa Mahmud di Pondok Gede - Jakarta tanggal 30-31 Maret 2014, dimana kedua belah pihak yang 'bertikai' hadir dan turut menanda tangini deklarasi yang maksud; dari PB DDI diwakili oleh Dr. HM. Yunus Samad, Lc. MM (Ketum); dan dari PP DDI AD diwakili oleh Prof. AGH. M. Faried Wajedy, MA (Rais 'Amm). Yang kemudian dikhianati oleh Dr. Yunus Samad itu dengan membuat SK Panitia Muktamar sepihak PB DDI.

Normalnya, secara kultural TSN-AU merupakan kebijakan tertinggi di DDI karena DDI telah lahir dari forum alim ulama seperti itu di Watang Soppeng sekitar 67 tahun lalu, dan selama periode Gurutta Ambo Dalle juga masih sering menyelenggarakan forum-forum alim ulama serupa untuk mengambil atau menentukan keputusan-keputusan penting ke arah perubahan organisasi yang lebih dinamis. Dan mengabaikan kultur DDI ini merupakan pelanggaran besar dan pengkhianatan terhadap ulama umat.

Ternyata, PB DDI mempunyai niat-niat licik secara terencana, struktural dan masif dibalik pengkhinatannya tersebut, di antara isu-isu yang santer beredar di MedSos bahwa muktamar PB DDI itu akan dilaksanakan sesederhana mungkin, menprifikasi (sortir) ketat calon-calon pesrta yang 'dikehendakinya' saja; memanfaatkan pesrta-peserta ‪#siluman‬ di dalam muktamar; dan arena muktamar akan dikawal dengan pengamanan berlapis. Dan segala rancangan produk atau keputusan-keputusan yang akan ditetapkan di dalam muktamar tersebut akan dimatangkan terlebih dahulu oleh badan pekerja khusus di luar forum sehingga di hari muktamar tinggal ‪#ketuk_palu‬ saja. Semua itu dilakukan untuk mengekalkan kekuasaan mutlak rezim Pengurus Besar (PB) yang berkuasa sekarang.

Adapun acara puncak yang direncanakan yaitu suksesi pemilihan ‪#Ketum‬ PB DDI, mereka akan merekayasa 'aklamasi' memilih Dr. MA. Rusdy Ambo Dalle (Putra founding father DDI), sebagai usaha untuk mengembalikan kepercayaan warga yang sudah hilang terhadap ‪#DDI2an‬ satu ini. Meskipun Ketum terpilih nantinya tetap akan dipersempit gerakan-gerakannya melalui aturan-aturan main (AD/ ART) yang telah mereka ‪#kondisikan‬ sedemikian rupa, sehingga ketum terpilih tidak akan mampu membuat perubahan-perubahan berarti kecuali yang tertera di dalam program kerja tertuang di AD/ ART organisasi.

Sebaliknya akan memberikan kekuasaan, kontrol dan pengendalian kebijakan organisasi tertinggi kepada satu lembaga yang mereka sebut ‪#majlis_syuyukh‬ atau mungkin tetap akan memakai sebutan lama ‪#Majlis_Aala‬ (MA) yang akan dipimpin langsung oleh Dr. HM. Yunus Samad, Lc. MM, dimana terakhir inilah nanti disebut sebagai ‪#patron‬ DDI, penerus guru politiknya MK.

Kemudian, ada pula ‪#pradigma‬ lain berhubungan dari bagian rekayasa buruk mereka, seperti mereka telah ‪#mengasumsikan‬ bahwa Dr. Rusdy sebagai Ketum terpilih dipastikan akan menghabiskan lebih banyak waktunya di ‪#Jakarta‬ dengan alih-alih memindahkan kantor pusat DDI ke Ibukota Negara sehingga Ketum akan sibuk sendirian di Jakarta (tanpa keikut sertaan pengurus lain) dalam urusan pemindahan pusat administrasi tersebut.

Sedangkan pengurus-pengurus lainnya yang di bawah kendali Dr. Yunus (sebenarnya) tidaklah menginginkan kekuasaan organisasi itu pindah dari Pinrang dan Parepare atau katakanlah mereka tidak ingi pusat DDI keluar dari basis aslinya Sulawesi Selatan, karena mereka- sejatinya - tidak berpikir DDI harus besar-besar amat asal cukup menjadi media untuk memenuhi hasrat kekuasaan saja dan menjadi jembatan emas demi mencapai tujuan pribadi dan kroni-kroninya. Jadi di dalam benak mereka bahwa apa yang dikerjakan Ketum Dr. Rusdy adalah semuanya sia-sia, bahkan akan dibaliknya menjadi ‪#jebakan‬ batman yang dapat mengganggu kinerja ketum.


Selanjutnya, mereka akan mengawasi dan menboikot segala program kerja dari Ketum sehingga roda organisasi tidak berjalan normal dan terbengkalai, serata tidak ada peluang yang diberikan kepada ketum untuk merealisasikan semua ide-ide perubahan yang dijanjikan di dalam program visi misi yang dijanjikannya. Sehingga dengan demikian, sang patron Dr. Yunus sangat mudah melengserkan Ketum karena dinilai tidak cakap mengurus DDI.

Hal-hal di atas sangat mudah dilakukan oleh H. Yunus yang jago dalam urusan rekayasan hitam dan boikot-menboikot sebagaimana pernah dilakukannya bersama bosnya Muiz Kabry ketika menboikot Gurutta Ambo Dalle dan merekayasa kepengurusan ‪#kembar‬ di dalam tubuh DDI dengan mengacuhkan susunan pengurus yang telah dibuat oleh almaghfuru lahu Gurutta Ambo Dalle tahun 1989. Na'udzubillah.

Friday, September 5, 2014

My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: HAJI WADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW | DETIK-DETIK JE...


MENGENANG HARI-HARI JELANG WAFAT MUHAMMAD RASULULLAH
SAW


Oleh: Med HATTA


SEKITAR 88 hari menjelang ‪#wafat‬ ‪#rasulullah‬ SAW, Beliau menunaikan ‪#rukun‬ ‪#Islam‬ yang kelima (Ibadah Haji) yang
dikenal dengan ‪#Hajjatul_Wada‬ (haji perpisahan), yaitu
haji yang pertama dan terakhir dilaksanakan oleh rasulullah ‪#Muhammad‬ SAW sepanjang hidupnya.


Pada tanggal 9 Zulhijjah Tahun ke-12 H, Nabi Muhammad
SAW ‪#wukuf‬ di padang ‪#Arafah‬ bersama kaum muslimin dari berbagai
pelosok dunia, nabi ‪#khutbah_wukuf‬ dihadapan seluruh jamaah
haji dihari itu dan pada saat itu pula turun ‪#ayat‬ ‪#Alquran‬ mengkomfirmasikan tlah ‪#sempurna‬ ajaran Islam, Allah berfiman:




My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: HAJI WADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW | DETIK-DETIK JE...: MENGENANG HARI-HARI JELANG WAFAT MUHAMMAD RASULULLAH SAW Oleh: Med HATTA SEKITAR 88 hari menjelang ‪#wafat‬ ‪#rasulullah‬ SAW, B...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA