Tuesday, March 3, 2015

My Buku Kuning Center : PERTEMUAN PUNCAK ANTAR PIMPINAN DDI DI BINTARO (DD...



SAMBUTAN PENGANTAR PERTEMUAN TOKOH DDI

Bintaro, 9 Jumadil Awal 1436 H/ 28 Februari 2015 M

Oleh: Drs. H. Helmi Ali Yafie


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah,
dengan rahmat Allah SWT, maka kita dapat menyelenggarakan pertemuan pada hari
ini, Sabtu, 28 Februari 2015, di tempat ini, di kediaman Gurutta Prof. KH. Ali
Yafie, di Kompleks Menteng Residence, Bintaro Jaya Sektor 7, Pondok Aren,
Tangerang. Pertemuan ini sangat penting artinya bagi Darud Dakwah wal-Irsyad
(DDI) ke depan. Ini bisa menjadi titik-balik bagi kemajuan dan kejayaan kembali
DDI, seperti yang diharapkan oleh banyak orang, tokoh, kader, santri dan warga
DDI. Tetapi, ini juga bisa menjadi titik berhenti sejenak di tepi jurang yang
menganga lebar yang siap menelan DDI, terlebih jika pertemuan ini tidak
didasari oleh dada yang lapang, pikiran dan hati yang jernih, yang memungkinkan
adanya kemauan untuk saling menerima dan memberi. Saya minta maaf menggunakan
kata-kata ini, karena mungkin kedengaran terlalu 'menderamatis', tetapi saya
tidak bisa menggunakan kata lain untuk menggambarkan suasana hati saya pada
saat ini. Bagi saya, ini adalah titik krusial.
 
BACA: Link:
My Buku Kuning Center : PERTEMUAN PUNCAK ANTAR PIMPINAN DDI DI BINTARO (DD...: SAMBUTAN PENGANTAR PERTEMUAN TOKOH DDI Bintaro, 9 Jumadil Awal 1436 H/ 28 Februari 2015 M Oleh: Drs. H. Helmi Ali Yafie  Assalamu...

Saturday, February 28, 2015

PERTEMUAN PUNCAK PIMPINAN DDI DI KEDIAMAN GURUTTA KH. ALI YAFIE | DDI BERSATU:

SAMBUTAN PENGANTAR PERTEMUAN TOKOH DDI

Bintaro, 9 Jumadil Awal 1436 H/ 28 Februari 2015 M
Oleh: Drs. H. Helmi Ali Yafie




Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, dengan rahmat Allah SWT, maka kita dapat menyelenggarakan pertemuan pada hari ini, Sabtu, 28 Februari 2015, di tempat ini, di kediaman Gurutta Prof. KH. Ali Yafie, di Kompleks Menteng Residence, Bintaro Jaya Sektor 7, Pondok Aren, Tangerang. Pertemuan ini sangat penting artinya bagi Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) ke depan. Ini bisa menjadi titik-balik bagi kemajuan dan kejayaan kembali DDI, seperti yang diharapkan oleh banyak orang, tokoh, kader, santri dan warga DDI. Tetapi, ini juga bisa menjadi titik berhenti sejenak di tepi jurang yang menganga lebar yang siap menelan DDI, terlebih jika pertemuan ini tidak didasari oleh dada yang lapang, pikiran dan hati yang jernih, yang memungkinkan adanya kemauan untuk saling menerima dan memberi. Saya minta maaf menggunakan kata-kata ini, karena mungkin kedengaran terlalu 'menderamatis', tetapi saya tidak bisa menggunakan kata lain untuk menggambarkan suasana hati saya pada saat ini. Bagi saya, ini adalah titik krusial.  



Perkenankan saya memulai pembicaraan ini dengan kilas-balik perjalanan kita sampai hari ini. Saya tidak bermaksud mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu untuk mengorek atau merobek kembali luka yang tampak sudah mulai tertutup. Tetapi, ini adalah sebagai refleksi saya atas peristiwa-peristiwa masa lalu. Ada berbagai peristiwa yang telah kita lalui; ada yang manis dan ada yang pahit, sangat pahit untuk ditelan, tetapi kita harus menelannya dan menjadi obat yang menyembuhkan dan menguatkan. Bagi saya, peristiwa masa lalu patut dilihat kembali dan mengenali faktor-faktor atau situasi yang memengaruhinya serta efeknya. Sejarah bukanlah sekedar kronologi kejadian, tetapi dibalik itu ada pergumulan di bawah permukaannya, yang menjadi pelajaran, memaknainya kembali, dan itu memungkinkan kita bisa menghindari dari keselahan-kesalahan yang sama, agar tidak terjatuh dan tetjebak pada lubang yang sama.

Kita bisa mengatakan bahwa DDI adalah - Almaghfurulah - Gurutta Ambodalle, maka kalau mau melihat karakter, jiwa atau roh DDI maka 'lihatlah, kenanglah, Gurutta. Gurutta dan kawan-kawan melahirkan DDI untuk menjawab tantangan zaman, yakni kelangkaan pendidikan (di mana pada masa itu terbatas pada kelompok tertentu yang berada di klas atas pada strata masyarakat kita) di satu sisi; dan di lain sisi, juga dalam rangka merespon gerakan atau pandangan keagamaan yang tidak toleran terhadap budaya dan tradisi setempat. Maka inilah (DDI) salah satu pilar dari gerakan pendidikan Islam yang bertumpu pada Ahlussunnah Waljama'ah. Gurutta dan kawan-kawan melakukan itu, bekerja untuk itu, dengan sepenuh hati, totatal, dengan pikiran dan hati yang jernih, jiwa yang penuh pengabdian, sehingga memberikan hasil secara maksimal. DDI di kenal memperoleh apresiasi dan tempat khusus dalam masyarakat, karena bisa menjadi memenuhi kebutuhan masyarakat. Dan, kalau kita melihat keadaan sekarang ini, misi itu masih sangat relevan.

Tentu Gurutta tidak sendiri. Para santri dan para sahabatnya yang sepaham dengannya ikut bersama; ada banyak pikiran dan tangan yang bekerja di situ, tetapi semuanya terpusat pada Gurutta. Maka kita bisa mengatakan bahwa tanpa Gurutta, DDI yang kita kenal tidak akan pernah ada; dan tanpa DDI kita ini, orang-orang yang dikenal sebagai masyarakat DDI, kader dan alumni tidak pernah ada dalam bentuk seperti sekarang ini. Karena campuran dari berbagai pengaruh, tetapi pengaruh Gurutta-lah yang terbesar; Gurutta-lah yang mengantar kita dalam bentuk sekarang ini, langsung maupun tidak langsung. Maka semua kita berhutang pada Gurutta, atau hutang-budi terbesar kita adalah pada Gurutta, dan itu patut dibayar, dengan pengorbanan tentunya.

Istilah pengorbanan ini mungkin tidak lagi populer sekarang, karena kita berada pada zaman yang didominasi sikap pragmatis, di mana hubungan didasarkan pada hitungan untung-rugi. Tetapi saya kira salah satu ajaran pokok dari Guru adalah pengerbanan. Kita diajari makna pengorban, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan. Itu adalah jalan para nabi, dan para ulama adalah ahli waris para nabi. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh Gurutta secara nyaris sempurna.

DDI yang dirintis, sibangun, digerakkana dan dan dikembangkan Gurutta, diantar ke dalam suatu suasana yang megah, harum namanya, memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tetapi sejak tahun 70-an seperti mengalami kesakitan, dan berpuncak pada tahun 90-an, sepeninggal Gurutta. DDI robek, terbelah.

Kesemua itu adalah efek dari suatu masa, ketika kekuatan begitu kuat dan dalam mencengkramkan kuku-kukunya ke dalam segala aspek kehidupan masyarakat, kita di bawah satu situasi di mana otoritas yang seharusnya menguatkan, berubah menjadi melemahkan. Berpuluh-puluh tahun kita berada dalam situasi itu, mengalaminya, dan itu membentuk karakter kita, karakter kepemimpinan kita.

Kepemimpinan yang dikenalkan Gurutta yakni kepemimpinan ulama yang menguatkan dan mencerdaskan, berubah menjadi kepemimpinan yang melemahkan dan mengabaikan tempat berpijak. Kepemimpinan yang hierarkis berlapis-lapis, dan selalu mencari gantungan ke atas. Kita dibawa ke dalam suasana dan dibiasakan dengan upaya-upaya penyelesaian persoalan internal dengan mengundang (atau dipaksa mengundang) kekuatan dari luar atau meminta petunjuk dari luar. Kita dibawa ke dalam suasana tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan sendiri. Kita tidak lagi bisa berbicara dari hati-kehati dengan saudara sendiri, terjebak dalam suasana saling mencurigai. Kita selalu bergantung pada pihak luar yang memiliki otoritas. Sesungguhnya kita dibawa ke dalam situasi kanak-kanak terus-menerus, yang selalu membutuhkan otoritas dan perlindungan orang tua.

Dalam keadaan seperti itu sebenarnya kita seperti telah kehilangan roh DDI yang ditanamkan oleh Gurutta. Sebenarnya efeknya sampai sekarang masih terlihat, cobalah perhatikan struktur organisasi yang dipenuhi oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran atau memiliki keterikatan dengan struktur kekuasaan. Saya tidak menyalahkan orang tertentu, karena itu bersifat massif, dan pengenalaan (pemaksaan) kepemimpinan seperti itu dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Maka, saya cenderung mengatakan ini adalah produk zaman. Kita seperti berada dalam dalam zaman yang salah, untuk kepemimpinan ulama, yang didasarkan pada hati yang jernih, dada yang lapang, tanpa kehilangan daya kritis dan kreatifitas; kepemimpinan yang mendapingi, menguatkan masyarakat dan mencerdaskan.

Beruntunglah masih tersisa orang-orang yang memiliki kepercayaan diri, kepercayaan pada saudaranya sendiri, yang mau berbicara secara terbuka satu sama lain, ditambahkan dengan dorongan dan dukungan dari generasi baru yang memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai warga DDI dan mau berkorban untuk kepentingan DDI, bekerja secara total tanpa pamrih. Itulah yang menghantar kita sampai pada pertemuan ini. Sebenarnya sudah sejak lama upaya ini dirintis, (alm) AGH. Wahab Zakaria, MA, kurang lebih dua atau tiga tahun sebelum wafat, secara massif mengajak saya mengobrol dan sebenarnya ada agenda yang coba kami jalankan, tetapi selalu mentok. Kami seperti menghadapi tembok. Sampai kemudian muncul gerakan anak-anak muda, generasi baru DDI yang lebih mandiri dan berupaya keluar dari jebakan-jebakan komflik masa lalu. Salah satu upaya yang digerakkan oleh generasi baru ini adalah acara Tudang Sipulung Nasional (TSN), Pondok Gede-Jakarta, 29-30 Maret 2014, yang dihadiri oleh berbagai unsur DDI, dari berbagai daerah, bahkan ada dari Negara lain, bias dianggap sebagai satu tahap yang membawa suasana baru dan menimbulkan harapan baru.

Pertemuan ini terselenggara karena adanya pertemuan intensif antara AGH. Faried Wajedy dan AGH. Rusdy Ambo Dalle, yang telah memperoleh kepercayaan dari para warga, anggota, kader dan tokoh-tokoh DDI sehingga memegang tampuk kepemimpinan DDI sekarang inii. Keduanya, karena setting keadaan, seperti berada di dua kubu (yang bertikai), tetapi karena mereka saling mempercayai, saling menghormati, maka keduanya terus-menerus membangun komunikasi, sampai pada adanya kesepakatan untuk bertemu di tempat ini, dengan menghadirkan sejumlah tokoh DDI baik yang tercantum dalam struktur kepengurusan DDI maupun yang tidak. Pertemuan ini diselenggarakan di tempat ini, saya kira bukan karena tempat ini bersejarah atau mempunyai makna khusus, tetapi karena di sini ada symbol ke-DDI-an yang kuat.

Demikian pengantar saya, mewakili tuan rumah, lebih kurangnya saya mohon maaf.

Wama taufiqi illa billah 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Untuk selanjutnya, saya mau meminta kesepakatan para hadirin, siapa yang akan dipercaya untuk menjadi fasilitator atau moderator dalam pertemuan.

Wednesday, February 18, 2015

SEJARAH DDI MODERN:


MAI Mangkos Cikal Bakal Lahirnya DDI

Oleh: H. Abdurrahman Hadi Al Mahdali

Dalam catatan sejarah, pesantren Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) dikenal di sulawesi sejak zaman Gurutta AGH. Abdurahman Ambo Dalle di Mangkoso, Barru, Ketika itu Gurutta Ambo Dalle. Membuka sebuah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Mangkoso, dan menjadikannya pusat pendidikan di Sulawesi. Para santri yang berasal dari berbagai daerah datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Malaysia.

Pesantren MAI Mangkkoso, merupakan cikal bakal berdirinya Madrasah madrasah DDI di sulawesi. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing. Maka didirikanlah Madrasah madrasah dengan mengikuti pada apa yang mereka dapatkan di pesantren MAI Mangkoso.

Kesederhanaan pesantren MAI Mangkoso dahulu sangat terlihat, baik segi fisik bangunan, metode, bahan kajian dan perangkat belajar lainnya. Hal itu dilatarbelakangi kondisi masyarakat dan ekonomi yang ada pada waktu itu. Ciri khas dari pesantren MAI Mangkoso ini adalah rasa keikhlasan yang dimiliki para santri dan Anre Gurutta. Hubungan mereka tidak hanya sekedar sebagai murid dan guru, tapi lebih seperti anak dan orang tua.

Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka mempergunakan rujukan kitab kuning. Di antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Hal itu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci. Seseorang tidak dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat (sosiologi). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu orientied”.

Masa pendidikan tidak didibatasi, yaitu sesuai dengan keinginan santri atau keputusan Anre Gurutta bila dipandang santri telah cukup menempuh studi padanya. Biasanya anre Gurutta menganjurkan santri tersebut untuk keluar mengajar di tempat lain atau mengamalkan ilmunya di daerah masing-masing. Para santri yang tekun biasanya diberi “ijazah” dari anre Gurutta

Lokasi pesantren MAI Mangkoso dahulu tidaklah seperti yang ada sekarang di Mangkoso atau di pesantren DDI lainnya, Ia lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (komplek) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar. Bentuk, sistem dan metode pesantren MAI Mangkoso dapat dibagi kepada empat periodisasi yaitu

Pertama, periode MAI Mangkkoso yang mencerminkan kemodernan dalam sistem, metode dan penguatan kitab kitab Kuning.

Kedua, Periode integrasi MAI Mangkoso Menjadi DDI, yang mencerminkan pengembangan MAI Mangkoso dalam bingkai DDI sebagai organisasi induk yang menaungi Madrasah madrasah yg didirikan Alumni MAI Mangkoso

Ketiga Priode Pesantren MAI Mangkoso menjadi pesantren DDI berstatus otonom yang mandiri, pasca dipindahkannya kantor PB DDI di Parepare

keempat, priode Pesantren DDI Mangkoso menjadi DDI AD pasca meninggalnya AGH Abd.Rahman Ambo Dalle. yang menunjukkan keinginan pesantren DDI Mangkoso kembali ke Mabda DDI yang dinilai telah keluar dari jalur sebagai organisasi pendidikan, dan Da’wah.

Periodisasi ini tidak menafikan adanya pesantren sebelum munculnya Pesantren MAI Mangkoso, Pesantren DDI Mangkoso, dan Pesantren DDI AD Mangkoso. sebab pesantren MAI mangkokso sendiri berasal dari Pesantren MAI sengkang, yang dibina oleh AGH As’ad. Demikian juga halnya dengan DDI, sebelumnya telah ada. Justru yang menjadi cikal bakal DDI adalah pesantren MAI Mangkoso yang sudah berkembang, sementara DDI AD adalah Pesantren DDI Mangkoso yang ingin mengembalikan DDI kemabdanya/Khittahnya sebagai Organisasi Pendidikan dan Da’wah, Pembagian di atas didasarkan pada perkembangan pesantren MAI Mangkoso dari dulu hingga kini.

Sifat kemodernan MAI Mangkoso, tidak hanya terletak pada bentuk Kelembagaan yang menyerupai sistem Pesantren pada umumnya di jawa, tapi juga pada bentuk koordinasi dalam pengembangannya. Hal ini tercermin dari didirikannya organisasi bernama DDI, Berbeda dengan MAI Sengkan yang tidak membuka cabang dalam pengembangannya. sehingga tidak memerlukan wadah yang lebih besar dalam pengorganisasiannya sejenis DDI, Hal ini bisa dimaklumi, mengingat sikap kehati hatian AGH Aa’ad yang lebih menekankan pada asepek kualitas dari pada kuantitas pada setiap santrinya, hingga tidak membuka cabang didaerah lain kecuali di Sengkan Wajo.

Dalam hal ini, pesantren MAI Mangkoso telah berani melangkah maju menuju perubahan yang saat itu mendirikan organisasi masih dianggap langka. Namun demikian bukan tidak beralasan. pengorganisasian Madrasah Alumni yang ditarapkan pesantren MAI Mangkoso adalah untuk mendobrak mitos bahwa Madrasah Alumni tidak munkin di diorganisir sehingga sulit berkembang dan selalu ketinggalan zaman. Prinsip inilah yang mengispirasi lahirnya DDI sebagai wadah yang menjembatani kepentingan Pesantren MAI mangkosos dengan Madrasah Alumninya, sekaligus menjadi terobosan baru pada saat itu karena MAI Mangkoso berhasil mengintegrasikan semua Madrasah Alumninya ke dalam organisasi DDI agar MAI Mangkoso beserta Madrasah madrasah Alumninya dapat mengikuti perkembangan zaman dan mampu mewarnai masyarakat dengan segala perubahannya.

Saturday, January 24, 2015

MENCIPTAKAN MILITANSI DDI ERA PASSELLE PASAU:


Membangun Kemajuan dan Militansi Masyarakat DDI

Oleh: Med HATTA

Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) merupakan salah satu ormas Islam terkemuka nasional, bahkan terbesar di Indonesia Timur yang didirikan oleh sekelompok alim ulama sunni Sulawesi Selatan dan Barat di bawah pimpinan Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle (1900-1996), melalui sebuah forum “Tudang Sipulung (Musyawarah) Alim Ulama” di Watang Soppeng tahun 1938. Dan tokoh yang disebutkan terakhir ini disebut sebagai founding father dan pemimpin tertinggi DDI hingga Beliau wafat tahun 1996.  

DDI – sesuai namanya – yang menitik beratkan misinya pada bidang pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan ini telah mengalami pasang-surut dalam perjalanannya dan mencapai puncak kejayaannya pada era ’80-an hingga tahun 1998. Seperti kata pameo bahwa ketahanan suatu konsep sangat ditentukan oleh sebuah ide dasar dan siapa yang mencetuskannya, maka DDI setelah pemimpin kharismatiknya tiada, sinarnya pun perlahan redup bahkan terpecah menjadi dua belahan besar dan sisanya terkotak-kotakkan, yang mengakibatkan DDI mengalami kemunduran dan tertinggal dari omas-ormas lainnya.

Beruntung Gurutta Ambo Dalle semasa hidupnya telah membangun sebuah ikatan emosional yang kuat di antara murid-muridnya, sehingga lahir istilah anak-anak biologis dan idologis yang senantiasa loyal dan mencintai sang mahaguru. Maka dari murid-murid (Baca: kelompok) militan inilah kemudian menjadi penggerak perubahan. Semangat mereka bagaikan badai yang tidak dapat dibendung menuntut segera  diadakan penyatuan dan memajukan DDI seperti masa-masa kejayaannya ketika Gurutta masih hidup, bahkan lebih men-dunia dari sebelum-sebelumnya.  

Berbagai gebrakan yang telah dilakukan oleh kelompok militan DDI ini, mulai dari membentuk kelompok-kelompok alumni berdasarkan almamater seperti “Ikatan Alumni Pesantren DDI Kaballangang” (IAPDIKA). “Ikatan Alumni DDI Abdurrahman Ambo Dalle” (IADAD) dan “Forum Alumni DDI Ujung Lare” (FADILA), serta puncaknya bergabung dalam sebuah solidaritas nasional Alumni DDI dan menyelenggarakan sebuah seminar nasional, yang dikenal dengan “Tudang Sipulung Nasional (TSN) Alim Ulama DDI”, di Pondok Gede, Jakarta (31/ 3/ 2014).

Meskipun belum dilaksanakan muktamar bersama penyatuan seperti rekomendasi TSN, tetapi setelah muktamar PB DDI di Sudiang pada 19-21 Des 2014 lalu, dengan memilih secara aklamasi DR. KH. MA. Rusdy Ambo Dalle sebagai ketua umum PB DDI periode 2014-2019, maka secara de facto DDI telah dinyatakan ‘bersatu’, karena masih ada beberapa mekanisme administrasi yang harus diseesuaikan oleh kedua belah pihak, yaitu antara KH. MA Rusdy Ambo Dalle (Ketum PB DDI) dengan AGH. M Faried Wajedy (Rais Am PP DDI AD), secara kekeluargaan.

Budaya dan Kekuasaan Melahirkan Militansi DDI Era Passelle Pasau:

Belajar dari pengalaman masa lalu, maka DDI modern tidak ada pilihan lain kecuali harus bangkit membangun kemajuannya kembali untuk bersaing dengan ormas-ormas besar nasional dan internasional, dan meraih Purnama DDI seperti yang dicita-citakan oleh (almaghfuru-lahu) Gurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Dan – kini – tanggung jawab ini telah berada pada tangan yang benar, jatuh kepada Passelle Pasau-na Gurutta Ambo Dalle, putra biologis sekaligus idiologis Beliau langsung, yaitu Dr. KH. MA. Rusdy Ambo Dalle.

Oleh karena itu, untuk membangun kemajuan DDI sangat dibutuhkan sebuah konsensus nilai yang ingin dikembangkan atau diterapkan dalam masyarakat DDI. Konsensus itu berupa ide-ide tentang wacana dan diskursus untuk menjadi nilai-nilai community of DDI building. Dan itu sudah diletakkan oleh Gurutta Ambo Dalle selama hidupnya. Ketika nilai-nilai itu telah kita sepakati bersama maka dalam aplikasinya dibutuhkan tangan-tangan kekuasaan agar efektif, cepat dan tepat dalam pembentukannya pada masyarakat dan warga DDI Global yang militan.

Kekuasaan selalu melekat dengan sebuah diskursus tertentu, khususnya diskursus budaya (Baca: pengetahuan) sebagai sumber kuasa dan kekuasaan itu sendiri. Menurut pakar sosiolog; kebenaran suatu diskursus tergantung pada apa yang dikatakan, terutama siapa yang mengatakan, dan kapan serta dalam kontes apa ia mengatakannya. Dengan demikian, seorang pemimpin yang berkuasa akan dapat memberi pengaruh signifikan terhadap kekuasaannya. Maka tidak heran jika siklus perubahan pada tatanan masyarakat hanya bisa dibentuk dari cita-cita luhur seorang penguasa yang mengabdikan diri untuk masyarakatnya secara ikhlas.

Kontribusi nilai kebaikan akan mudah dicapai bila kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin dapat dirasakan sebagai teladan "amar ma'ruf nahi munkar" tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan mazhab. Kebaikan-kebaikan formalistik yang mengindikasikan terwujudnya nilai-nilai universal sebagai frame sebuah ficture komunitas yang lahir dari kedalaman nilai budaya.

Tulisan ini tidak ingin menyebutkan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin masyarakat DDI modern era Passelle Pasau, tetapi sebagai gambaran Al Quran telah banyak menceritakan type dan karakter pemimpin dan kekuasaan pada beberapa ayat sucinya, mulai dari penguasa-penguasa local sampai kepada penguasa dunia atau pemimpin bangsa besar sekaliber Namrud, Fir’aun, Sulaiman, Zul Karnaen dan teladan pemimpin terbesar Dunia nabi Muhammad SAW. Mereka telah membangun imperium yang sangat besar dipermukaan bumi, menguasai seluruh belahan Barat dan Timur dunia, yang belum ada tandingannya hingga kini.

Raja Firaun misalnya, ia telah mencurahkan segala pengetahuan dan kepiwaiannya membangun sebuah peradaban bangsa yang sangat tnggi di masanya. Peninggalan-peninggalan sejarah yang pernah dibangun di hilir sungai Nil - Mesir berupa situs-situs bersejarah seperti struktur kota modern, oplis di Aswan, ma’bad Karnak, pemakaman raja-raja di Luxor dan beberapa piramid besar dan kecil yang tersebar diberbagai wilayah Mesir menunjukkan betapa tinggi peradaban manusia yang bangunnya.

Sungai Nil yang di bendung menjadi irigasi yang mengairi lembah padang pasir tandus menjadi subur penuh pepohonan dan tanaman-tanaman produktif yang memberi penghasilan bagi masyarakat Mesir kuno membuktikan bahwa Firaun adalah seorang raja besar yang mengabdikan diri bagi rakyatnya, perdagangan yang maju pesat hingga menjangkau hamper seluruh kawasan terutama wilayah Timur dan Tengah benua Afrika serta kawasan Mediterania bagian Timur memberikan kontribusi pembangunan ekonomi bagi bangsanya.

Dibidang pengembangan kebudayaan, sastra, sistem tulis-menulis, seni, teknologi dan arsitektur, Fir’aun telah menunjukkan keunggulan budaya bangsanya. Belum lagi keadidayaan militernya yang tak tertandingi serta ditakuti oleh musuh-musuh yang mengancamnya sehingga masyarakat negeri Mesir kuno aman dan stabilitas perekonomiannya terjamin. Semua itu menjadi faktor keberhasilan Fir’aun membangun sebuah peradaban bangsa besar yang pernah ada di muka bumi, yang menginsfirasi lahirnya peradaban-peradaban manusia modern.

Namun, disayangkan capaian Fir’aun itu tidak menjadikannya sosok penguasa yang rendah hati dan berlaku adil bagi rakyatnya justru Fira’un terbentuk menjadi karakter penguasa yang semena-mena dan sombong atas keunggulan budaya dan kekuasaannya, dan mencapai klimaksnya ia menjadikan dirinya sebagai sosok tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Suara rakyat bukan lagi menjadi suara tuhan tetapi suara Fir’aun itulah sebagai suara tuhan, wal’iuadzu billah. Sehingga Allah membinasakannya di tengah laut bersama dengan bala tentaranya.

Karakter yang jauh berbeda dengan Fir’aun, sekitar 4000 tahun sesudahnya, lahir seorang rasul di Jazirah Arabia, nabi besar Muhammad SAW mulai mengembangkan pengetahuan (risalah)nya tanpa memiliki kekuasaan memadai di kota Makkah, kecuali hanya keimanan dan budi luhur saja. Maka nilai-nilai dan risalah perubahan yang diembannya menjadi bahan cemoohan dan olok-olokan dikalangan mayoritas  bangsawan Quraisy, bahkan menimbulkan kemarahan massal karena dianggap telah mengganggu sensitifitas tradisi lokal masyarakatnya, dan menodai kepercayaan leluhur mereka.

Oleh karena itu, maka langkah awal yang dilakukan nabi Muhammad SAW adalah dengan mengkomunikasikan dakwah dan pengetahuannya di tengah-tengah masyarakat Quraisy Makkah dengan cara tertutup atau dikenal “da’wah bissir”, Beliau menyampaikan dakwah pembaharuannya dengan cara berbisik-bisik di antara keluarga, teman-teman dan kerabat-kerabat terdekatnya. Nabi melakukan itu bukan karena belum datang kepadanya perintah Allah untuk melakukan dakwah massal, tetapi hal itu lebih disebabkan karena Beliau tidak mempunyai dukungan kekuasaan yang melekat pada dirinya.

Selama tiga tahun membangun dakwah dengan cara tertutup semenjak dinobatkan menjadi nabi dan rasul pada usia 40 tahun, tentu tidaklah mendapatkan dukungan kukuasaan yang memadai melainkan hanya disambut oleh kelompok orang-orang lemah dan budak-budak sahaja saja. Lalu selanjutnya Allah memerintahkan kepada nabi melakukan dakwah massal terbuka di kota Makkah, maka sejak itu pula Muhammad SAW mendapatkan protes dan tekanan keras dari bangsawan Quraisy yang merasa terganggu dengan cara-cara dakwah massal itu.

Beberapa kali pemuka bangsa Arab mendatangi paman nabi Abu Thalib meminta agar ia mau menghentikan ocehan keponakannya yang dianggap menyinggung nilai-nilai traditional leluhur mereka. Namun, negoisasi itu selalu berakhir tanpa ada respon apapun dari Abu Thalib sampai pada akhirnya paman nabi yang tercinta itu meninggal dunia di saat-saat nabi masih membutuhkan ke tokohannya sebagai pelindung aktifitas dakwahnya.

Maka semenjak  kepergian Abu Thalib itulah serial cercaan, ancaman, siksaan, dan berbagai penganiayaan lainnya mulai dilancarkan oleh kaum Quraisy jahiliyah, dan langsung dirasakan nabi Muhammad SAW dan pengikutnya. Dan keadaan seperti itu hampir sepuluh tahun dirasakan umat Islam di Makkah sebelum diputuskan untuk pindah ke Yastrib yaitu Madinah - saat ini. Dan di Madinah, barulah nabi Muhammad SAW dapat mengekspresikan pengetahuannya dengan memiliki kekuasaan sebagai Imam dan pemimpin kekuasaan umat Islam pertama Madinah.

Sejarah dua kekuasaan besar di atas menginspirasi bahwa peran kekuasaan mampu mendorong penciptaan peradaban sesuai persepsi pemimpin/ penguasa dengan menerapkankan pengetahuan (budaya) sesuai orientasi yang ingin dicapainya. Atau relasional budaya dan kekuasaan saling berkontribusi untuk memuluskan perjalanan kekuasaan itu sendiri secara produktif. Dengan demikian, budaya atau pengetahuan dalam kekuasaan itu haruslah membawa dampak maslahat yang diformulasikan dalam perbaikan dan pembangunan.  

Peran Passelle Pasau Membangun Budaya Militan DDI:

Jika hal ini ingin ditrasfermasikan kepada peran yang harus dilakoni Passelle Pasau dalam membangun masyarakat DDI yang militan, loyal dan mencintai penguasa serta kekuasaannya, secara sederhana ditekankan kepada tiga hal prinsip:

Pertama: Passelle pasau yang berkuasa harus memenuhi hajat kebutuhan spiritual bagi masyarakatnya secara proporsional sesuai konsensus DDI yang telah diletakkan dan diteladankan oleh Gurutta Ambo Dalle;

Kedua: Membangun ormas DDI bersatu, maju, besar secara nasional dan mampu bersaing dilevel internasional; menjadikan sekolah-sekolah, pesantren dan lembaga pendidikan tinggi, serta lembaga-lembaga pendukung ormas DDI lainnya sebagai menara-menara budaya, dakwah dan social kemasyarakatan di negeri ini dan terpandang di dunia internasional. Dan penguasa passelle pasau harus menampilkan DDI sebagai ormas yang mandiri secara ekonomi dengan mengembangkan aset-aset produktif organisasi menjadi sumber-sumber perekonomian masyarakat DDI, dengan tidak membiarkan adanya kesenjangan sosial dalam peningkatan sumber daya manusia terutama dalam pemenuhan hak-hak intelektualitas sebagai penopang kemajuan peradaban luhur.

Ketiga: Passelle Pasau penguasa harus lebih arif dan bijaksana dalam menanamkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan dengan sangat elegan layaknya passelle pasau benar-benar memahami wacana-wacana universal diantara perbedaan-perbedan suku, ras dan wawasan dalam struktur masyarakat DDI.

Prinsip-prinsip inilah yang membuat keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam menggunakan kekuasaannya sehingga menciptakan militansi, loyalitas dan kecintaan pengikutnya dalam menerima dakwanya, dan ini pula yang telah diteladankan Gurutta Ambo Dalle dalam mengembangkan DDI.  Dan tentu saja prinsip-prinsip ini dilupakan oleh Fir’aun laknatullah ...  

Wednesday, December 24, 2014

VICTORY SPEECH OLEH KETUA PB DDI TERPILIH :

BERPIJAK PADA MABDA DAN TRADISI DDI
KITA MENYONGSONG ERA BARU MENUJU PENYATUAN DAN PERSATUAN DDI
OLEH: DR. KH. MA Rusdy Ambo Dalle
 

الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان، وصلى الله على جميع الأنبياء والمرسلين، وعلى خاتم النبيين محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد.



Hadirin muktamirin dan muktamirat yang saya hormati.
Serta keluarga besar DDI yang saya cintai yang hadir pada hari yang bersejarah ini.

Syukur Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah, karena telah memberi kita kesempatan untuk berdamai dengan waktu, dan melalui kelapangan waktu itulah kita dapat berkumpul dan bersilaturrahim pada saati ini, sebuah momen yang sangat penting dalam sejarah perjalanan DDI, lembaga Islam yang lahir ditengah-tengah kancah perjuangan, bergolak mengawal kemerdekaan, dan mendapat tempat yang terhormat ketika kemerdekaan diraih yakni sebagai salah satu lembaga Islam terbaik di Indoesia dengan menempati urutan ke tiga setelah NU dan Muhammadiyah. Tapi sejarah juga mencatat, bahwa ketika satu demi satu the founding father DDI menghadap kepada sang Pencipta, sayup-sayup mentari DDI pun mulai meredup sinarnya, tanpa pijar dan harapan, bahkan bercerai-berai, terpecah, dan terbelah dua. Sebuah tragedi sejarah yang miris dan memilukan.

Karena itu, saya menyambut gembira diadakannya Muktamar ini, dan berterima kasih kepada panitia karena memberi kesempatan kepada saya untuk tampil berbicara di hadapan Bapak/Ibu. Sungguh sangat sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan saat ini lewat kata-kata, karena sebuah kata justru akan mereduksi makna. Apa yang kita harapkan dan inginkan bersama bahwa Muktamar DDI ini bisa menjadi awal gerak maju organisasi DDI ke depan. DDI yang satu dan modern, dan hal yang paling dibutuhkan adalah mengembalikan semangat kebersamaan, kesatuan, seperti yang telah ditanamkan oleh para pendiri DDI, dan untuk mencapai semua itu dibutuhkan tiga hal:
  1. Menghilangkan rasa ingin mengusai orang lain.
  2. Menghilangkan rasa kecurigaan.
  3. Tidak merasa yang paling benar.




مهما كنت رائيا وكريما وطيبا ستجد من لا يحبك لأسباب لا تعرفها , فلا تنزعج كثيرا


Tradisi DDI yang berpijak pada budaya Sulawesi Selatan dan Barat, mengatakan bahwa maliq siparappe, rebba sipatokkong, pada idiq pada eloq (hanyut saling menyelamatkan, rebah saling menegakkan, (tapi) di antara kita saling punya keinginan masing-masing). Ungkapan ini mengajarkan kepada kita tentang dua hal, yakni makna sosial dan makna individual. Makna sosial intinya adalah saling menghargai, saling menyayangi, saling dukung, saling menghormati, saling membantu, yang intinya mengajarkan kita tentang hubungan yang resiprokal , bukan sepihak, mau menang sendiri dan merasa diri yang paling benar. Tapi pada sisi yang lain, budaya ini juga mengajarkan kepada kita, untuk menjadi diri kita secara utuh, yang punya perasaan, keinginan, dan kehendak. Agar aturan sosial maupun aspirasi individual tidak kebablasan, maka ia dikontrol dan dipayungi oleh budaya agung orang Sulawesi Selatan dan Barat dengan apa yang dikenal siriq na pesse. Siriq mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi harga diri, maruah, dan rasa malu, yang diikat oleh pesse yaitu rasa solidaritas yang tinggi. Dalam ungkapan Bugis dikatakan, yakko deq na siriqmu mamuare engka menneng mupa pessemu, apabila sudah tidak ada siriq-mu, setidaknya engkau masih punya pesse. Sehingga ajaran ini menekankan bahwa bahwa tau deqe siriqna tania tau rupa tau mani asenna, orang yang tidak punya siriq bukan lagi manusia hanya bermuka manusia saja. Inilah yang menjadi pedoman dan tradisi DDI yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para ulama dalam berinteraksi kepada sesama ulama, kepada murid, dan kepada masyarakat umum.



Para hadirin yang saya hormati
Atas dasar keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa DDI bisa berubah, maka akhirnya saya tampil berdiri di hadapan para bapak-bapak dan ibu-ibu saat ini, dengan niat untuk mengembalikan tradisi DDI yang telah digerogoti oleh zaman. Zaman yang menempatkan materi dan nafsu duniawi sebagai ukurannya. Mari kita bersama-sama bekerja keras, dan dengan sekuat tenaga dan kemampuan, dan dengan keyakinan yang kuat pula Insya Allah DDI bersatu kembali, bersama-sama dengan kita berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan, dalam usaha menjadikan DDI sebagai lembaga modern yang tetap berpijak pada Mabda DDI dan tradisi DDI yang dikembangkan oleh para ulama DDI.


Dalam berbagai kunjungan kami ke beberapa cabang DDI di Indonesia, maka situasi yang kami temukan sangatlah miris dan memprihatinkan, sebagian DDI telah mati, setengah hidup, dan yang hidup dan bertahan pun pada umunya masih tertinggal, itu kalau kita mengacu pada pensyaratan sebuah institusi pendidikan modern, school must strike a healthy balance between ideslism and commercialism if they are to become respectable and durable educasional institution. Sebuah lembaga pendidikan hanya mampu bertahan dan survive apabila mampu menyeimbangkan antara idealisme dan pendapatan yang diperoleh demi untuk membiayai kelangsungan hidupnya.


Di samping di bidang pendidikan dan dakwah, kita juga perlu memberi attention terhadap issu-issu global seperti Hak Asazi Manusia (HAM), lingkungan hidup, dan terorisme. Kita harus mengembangkan Badan-Badan Otonom DDI agar tidak hanya terjebak dalam kegiatan rutinitas yang beku, tapi mereka harus mampu menerjemahkan gejolak zaman. Tema-tema sosial yang kini lagi trend dan banyak diminati seperti masalah etnisitas, loyalitas kelompok, harkat manusia, balas dendam, bunuh diri, adat dan kesukuaan, konflik agama, tradisi besar dan kecil, toleransi, global versus pluralism, merupakan issu-issu global yang harus ditanggapi secara serius dan diharapkan DDI dapat memberikan kontribusinya dalam mengatasi berbagai konflik yang ditimbulkannya .


Hadirin muktamiriin dan muktamiraat yang saya hormati
Mengutip Bertolt Brecht dalam sebuah prosanya;
kekeliruan dan kemajuan:
Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, kita tidak akan mengira bahwa kita akan melakukan kesalahan-kesalahan, dan kita jalan di tempat. Karena itu, kita harus memikirkan mereka yang akan meneruskan pekerjaan kita, hanya dengan begitulah, kita dapat menghindarkan bahwa sesuatu telah selesai.

إن شاء الله، يبقى الحب والإحترام بيننا كلنا أيد واحد، وكلنا الداريين من الله المستعان وعليه التكلان والسلام عليكم



Jakarta, 18 Desember 2014

Tuesday, December 16, 2014

MUKTAMAR PB DDI DAN ASA YANG MENGGANTUNG:

Ukhuwah Addariyah
Oleh: AAS Said
Muktamar ke-21 yang dilaksanakan oleh PB DDI mengusung tema yang menggambarkan harapan besar dan bersemai di hati jutaan warga Darud Da'wah wal-Irsyad (DDI), merajut "Ukhuwah Addariyah". Sayangnya, pintu masuk ke arah terwujudnya ukhuwah addariyah sudah ditutup sebelumnya. Tampaknya, cara pandang organisasi yang legal formalistik, lebih penting dari pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu penyatuan DDI.


Karena cara pandang seperti itu, Tudang Sipulung Nasional (TSN) Alim Ulama DDI di Pondok Gede Jakarta yang melahirkan Deklarasi Pondok Gede justru dianggap ilegal dan karena itu keputusannya tidak mengikat. Padahal, kalau kita mau sedikit berbesar hati dengan menempatkan kepentingan DDI yang lebih besar, TSN AU dan Deklarasi Pondok Gede semestinya dipandang sebagai solusi bermartabat dan pintu masuk menuju penyatuan DDI, tanpa ada pihak yang merasa tertinggal atau terlecehkan.


Andaikan muktamar ke-21 ini terlaksana sesuai dengan hasil Deklarasi Pondok Gede, kita akan menyaksikan muktamar kali ini yang bertul-betul sarat dengan ukhuwah addariyah, sebagimana tema yang diusung panitia. Bahkan, tanpa mengangkat tema itu pun, ukhuwah itu akan tercipta dengan sendirix di medan muktamar karena pada dasarnya para peserta diikat oleh satu komitemen yang sama, semuanya mengaku sebagai anak-anaknya Gurutta.


Tapi, sudahlah. Kita tidak perlu berandai-andai karena faktanya sebentar lagi muktamar itu akan terlaksana. Kita hanya bisa menitip harapan kepada panitia dan peserta. Semoga mereka menyadari akan pentingnya peranan mereka dalam menentukan masa depan DDI, apakah akan meneruskan konflik yang membuat DDI kian terpuruk atau akan membebaskan DDI dari segala macam konflik kepentingan. Semoga muktamar kali ini terbebas dari segala macam intrik-intrik sebagaimana yang sering terjadi dalam muktamar sebelumnya.

Selamat bermuktamar untuk saudara-saudaraku. Wallahul Mustaan Waalaihit Tiklan

Thursday, November 20, 2014

My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: KURSI ALLAH YANG SUPER-SUPER LUAS:

Istilah
kursi yang dinisbahkan kepada Allah SWT tidak disebutkan di dalam Al Quran
kecuali hanya sekali saja, yaitu pada ayat ke-255 dari surah Al Baqarah (002),
yang juga dikenal dengan ayat kursi. Sebagaima tidak ada yang mengetahui bentuk
dan dimemsi (luas) makhluk yang disebut "Kursi Allah" itu kecuali apa yang telah
diceritakan Al Quran pada ayat kajian; bahwa luasnya sama dengan dimemsi tujuh
langit dan tujuh bumi. Berapakah dimemsi Luas Kursi Allah Itu?  (My Buku
Kuning
)
My Buku Kuning Center TARO ADA TARO GAU: KURSI ALLAH YANG SUPER-SUPER LUAS:: Serial : 99 Perumpamaan LIVE Al Quran ( 02 ): Kursi Allah Seluas Langit dan Bumi Oleh: Med HATTA   Istilah kursi yang dinisbahk...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Recent Posts

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA