Wednesday, February 9, 2011

Keajaiban Angka Dalam Alquran BESTSELLER


Keajaiban Angka-angka Dalam Alquran

ISBN:9789791234771
Author:Muhammad Hatta Al Fattah
Language:INDONESIA
Date Published:Agustus 2010
Type:HARD COVER
No. of Pages:338
Dimensions (cm):15.5 x 24.5

Monday, December 1, 2008

HAUL KE-12 GURUTTA AMBO DALLE

1Jam Di Murka Gurutta Ambo Dalle
Penulis: Med HATTA


Bagi sebahagian orang di murka oleh seseorang yang dicintai atau dihormati merupakan suatu kiamat yang menimpa orang tersebut. Berbeda dengan penulis murka oleh sang maha guru yang dicintai merupakan rahmat tertentu yang selalu dikenang dan menjadi motivasi hingga kini.

Adalah tradisi istimewa yang membedadakan Darud Da'wah Wal-Irsyad (DDI) dengan lembaga pendidikan islam lainnya, selain mengajarkan pendidikan formal di bangku sekolah, DDI juga menerapkan pengajian halaqah 2 kali sehari (ba'da Maghrib & ba'da Subuh) dan sepanjang 6 hari seminggu, kecuali hari Jum'at dikhususkan acara Traning Da'wah secara rutin.

Pengajian halaqah dihadiri oleh semua santri dari tingkat I'dadiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta guru-guru yang dipimpin oleh Ustaz-ustaz senior seperti Gurutta Ambo Dalle sendiri, DR. H. Abdurrahim Arsyad, H. Muhammad Yunus Kamba Lc, Drs. H. Jamaluddin Semmang, H. Lukmanul Hakim Lc, dll. Dalam pengajian-pengajian halaqah tersebut semua santri membaca kitab-kitab kuning atau kitab-kitab gundul (tidak berbaris)yang sudah dipilih seperti: Tafsir Jalalin, Riyadh Ashshalihin, Syarhul Hikam, Hushunul Hamidiyah, Kifayatul Akhyar, Bulughul Maram, Al Irsyad, dll semuanya 12 kitab, dan semua santri diwajibkan memilikinya.

Penulis terdaftar di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang - Pinrang tanggal 27 Juli 1983, tamat Tsanawiyah tahun ajaran 1985/86, tamat Aliyah tahun ajaran 1988/89. Dan berangkat ke Cairo 03 Nopember 1989, kemudian hijrah ke Maroko pada 27 Juni 1995 hingga kini.

Kenapa di Murka oleh Gurutta Ambo Dalle?

Ceritanya, pada salah satu pengajian halaqah ba'da Maghrib, malam Senin (tidak catat tanggal & bulannya) tahun 1985, waktu itu jadwal Gurutta Al Mukarram Syekh Haji Abdurrahman Ambo Dalle memberikan pengajian membaca kitab Syarhul Hikam. Seperti biasanya, sebelum Gurutta Ambo Dalle membaca dan menjelaskan isi kandungan kitab beliau terlebih dahulu meminta beberapa orang santri membaca secara bergantian untuk membiasakannya membaca kitab gundul dan membenarkan bacaannya serta mengurai qawaid/ tata bahasa arab (nahwu dan sharafnya), Gurutta Ambo Dalle sangat ahli dibidang ini.

Singkat cerita setelah beberapa kali Gurutta Ambo Dalle memerintahkan membaca tapi tidak seorang santri-pun yang memulai, dan biasanya juga penulis disetiap kesempatan seperti ini selalu pertama memulai membaca sekalipun bacaannya masih amburadul waktu itu, maka Gurutta mencari penulis yang kebetulan sibuk menunjukkan batasan bacaan pada salah seorang teman yang duduk disamping. Pemandangan ini membuat Gurutta murka dan marah besar dianggapnya penulis main-main dan mengganggu orang lain dalam pengajian.

Dari situ-lah awalnya penulis dimarahi tak henti-hentinya hingga azan Isya, mulai dari memelesetkan nama penulis yang kata beliau hari ini namanya bukan HATTA lagi tapi Khatta alias coret-coretan yang suka mencoret-coret dan mengganggu orang. Penulis diam dan meringis saja terus hingga berakhir pengajian. Penulis sangat sadar bahwa Gurutta Ambo Dalle sedang menasehati penulis dan santri-santri lainnya agar selalu tekun dan serius mengikuti setiap pengajian karena menurut beliau pengajian itu merupakan bagian dari ibadah sambil mengutip hadits, maksudnya: "Tiada seorang hamba-pun yang duduk dalam suatu majlis mengikuti pengajian halaqah kecuali Malaikat mengembangkan sayapnya menaungi hamba tersebut dari kampung halamannya sampai majlis seraya mendo'akannya".

Setelah shalat Isya penulis cepat-cepat mengambil sandal Gurutta Ambo Dalle dan menunggu didepan pintu mesjid... Begitu Gurutta keluar penulis meletakkan sandalnya didepan kedua kaki yang mulia Gurutta sambil berusaha menggapai tangannya ingin menciumnya sekaligus meminta maaf atas kejadian dipengajian tadi tapi Gurutta mengelak katanya tidak mau sapaan sama penulis lagi... Dengan perasaan sedih tidak mau disapa sama sang maha guru yang tercinta penulis berusaha mengadu dengan membaca ayat sekenanya "InnalLaha ghafurun rahim" dan menginterpretasikan sangat bebas pula bahwa: Allah saja memaafkan hambanya kenapa Gurutta tidak mau memaafkan saya... Ternyata usaha penulis kena hati Gurutta luluh... Beliau senyum sambil memegang kepala penulis katanya kamu sekarang sudah bagus dan jangan mengganggu orang lagi... Alhamdulillah, betapa nikmatnya disayang sama ulama...

Setelah itu penulis memohon Gurutta mengganti nama penulis tetapi dijawabnya tidak usah karena menurutnya nama penulis bagus sekali, "HATTA": beliau mengharapkannya seperti "Lailatul Qadr" (Salamun hiya hatta mathla'il fajr -- mengutip ayat surah Al Qadr), dan mendo'akan segala cita-cita tercapai (Hatta ghayatul amal)...

Seperti bulan ini, 12 tahun yang lalu tepatnya tanggal 29 Nopember 1996, Gurutta Al Mukarram Syekh Haji Abdurrahman Ambo Dalle telah pergi meninggalkan dunia fana ini menuju pangkuan kekasihnya Sang Khalik Yang Maha Pengasih dan Penyayang...


يأيتها النفس المطمئنة ارجعي الى ربك راضية مرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي

اللهم أغفرله وارحمه واعفو عنه وأكرمه
اللهم وسع مدخله وادخله الجنة وغسله بالثلج والماء والبرد
اللهم يمن كتابه وهون حسابه ولين ترابه وثبت أقدامه وألهمه حسن الجواب
اللهم طيب ثراه واكرم مثواه واجعل الجنة مستقره ومأواه

اللهم نور مرقده وعطر مشهده وطيب مضجعه
اللهم آنس وحشته وارحم غربته وقه عذاب القبر وعذاب النار
اللهم نقه من خطاياه كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس
اللهم فسح له في قبره واجعله روضة من رياض الجنة ولا تجعله حفرة من حفر النار
اللهم انقله من ضيق اللحود والقبور إلى سعة الدور والقصور مع الذين أنعمت عليهم من الصديقين والصالحين والشهداء

اللهم اجعل له من فوقه ومن تحته ومن أمامه ومن خلفه وعن يمينه وعن يساره نورا من نورك يا نور السماوات والأرض
اللهم أبدله دارا خيرا من داره وأهلا خيرا من أهله وأزواجا خيرا من أزواجه واسكنه فسيح جناتك في الدراجات العلي آمين
اللهم إن كان قد أحسن فزد في إحسانه وإن كان قد أساء فتجاوز عن إساءته

يا أكرم من سئل ويا أوسع من جاد بالعطايا … خفف أحماله وحط من أوزاره واجعله في مقام من قام لك بالقرآن أناء الليل وأطراف النهار
اللهم كن له بعد الحبيب حبيبا ولدعاء من دعا له سامعا ومجيبا واجعل له من فضلك ورحمتك وجنتك حظا ونصيبا

اللهم من أحييته منا فأحييه على الإيمان ومن توفيته منا فتوفه على الإسلام

اللهم إنا نسألك توبة قبل الموت وراحة عند الموت ومغفرة بعد الموت
اللهم اجعل لنا عملا يؤنسنا في قبرنا إذا أوحشنا المكان ولفظتنا الأوطان وفارقنا الأهل والجيران
اللهم هب لنا نفوسا مطمئنة تؤمن بلقائك وترضى بقضائك تقنع بعطائك

اللهم أغفر لحيينا وميتنا وشاهدنا وغائبنا و صغيرينا وكبيرنا وجميع موتى المسلمين والمسلمات الذين شهدوا لك بالوحدانية ولنبيك بالرسالة وماتوا على ذلك
اللهم اجعل خير أعمالنا خواتيمها واجعل خير أيامنا يوم لقائك
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

وصلي الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

البقــــــــــــــــاء للــــــــــــه


Casablanca 29 Nopember 2008
Catatan: Mengenang haul 12 tahun wafatnya Gurutta Ambo Dalle

Saturday, October 25, 2008

Prof KH Ali Yafie (1926 - Sekarang)


Ulama Ahli Fiqh

Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.

Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.

Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.

Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.

Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.

Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.

Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren.

Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain

Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.

Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.

Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971--1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.

Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Friday, October 24, 2008

AGH Daud Ismail (1907 - 2006)


AGH Daud Ismail, sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan Lembaga Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya Datud Da’wa wal Irsyad (DDI) bersama almarhum AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Muhammad Abduh Pabbajah serta ulama-ulama sunni Sulawesi Selatan lainnya. Beliau Lahir di Cenrana Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907, buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir (terjemahan) Alquran sebanyak 30 juz dalam bahasa Bugis.

Pada tahun 1942 istri pertamanya, yang selalu setia mendampingi perjuangan beliau berpulang kerahmatullah di Sengkang. Dari istri pertama beliau ini dikarunia tiga orang anak, yaitu Drs H. Ahmad Daud. Sayang umur anak pertamanya ini tidak berumur sepanjang beliau. Dalam umur menjelang 50 tahun, H Ahmad Daud berpulang kerahmatullah. Semasa hidupnya, Ahmad Daud sempat menjadi Dosen IKIP Ujung Pandang, kini Universitas Negeri Makassar. Anak kedua beliau bernama H Basri. Kepada H Basri Gurutta Daud Ismail menyerahkan pimpinan Pondok Pesantren YASRIB. Namun, lagi-lagi beliau harus kehilangan calon pengganti. H Basri ternyata mendahului sang ayah menghadap Khalik. Salah seorang lagi anak Gurutta dari istri pertamanya juga kini sudah meninggal dunia.

Istri kedua Gurutta Daud Ismail bernama Hj. Farida. Dari perkawinannya dengan Hj Farida dikaruniai tiga orang anak. H. Syamsul Huda, Nurul Inayah, sekarang Pegawai Pengadilan Agama di Watang soppeng, dan Rusydi, yang sekarang jadi staf Pegawai BNI di Jakarta.

Gurutta Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al quran pada orang tua kandungnya. “Nappaka lao mangngaji pasantren,” (Kemudian saya melanjutkan di pendidikan pesantren) di sejumlah ulama di Sengkang. Kebetulan waktu itu, menurut beliau sudah ada ulama-ulama besar. Antara tahun 1925 – 1929 beliau juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Gurutta Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula beliau belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kittab.

Setelah Anre Gurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anre Gurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anre Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle. “Laing memetto gurutta Sade` usedding batena mappa`guru”, (Saya merasakan memang agak lain waktu saya belajar pada Gurutta Sade – panggilan akrab bagi Anre Gurutta Muhammad As`ad - dibanding waktu saya belajar di tempat lain), demikian kenang Gurutta Daud Ismail.

Selama belajar di Sengkang beliau merasakan banyak sekali kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu-ilmu agama. Misalnya, Ilmu Qawaid, Ilmu Arodi, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Hal itu cukup dirasakan oleh beliau karena metode mengajar yang diterapkan oleh Gurutta H.M. As’ad terbilang sudah lebih maju dari metode yang beliau dapatkan sebelumnya. Sehingga menurut pengakuan beliau, santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkan.

Salah satu kesan mendalam Gurutta Daud Ismail kepada Anre Gurutta As`ad, ketika beliau mengajarkan ilmu Arudhi. Arudhi ini beliau ajarkan setelah Shalat Isya, hingga larut malam. Bahkan terkadang sampai jam satu malam. Anehnya, Gurutta Daud Ismail hanya diajarkan satu malam ilmu Arudhi. Keesokan harinya beliau langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Inilah salah satu kelebihan dan keunikan Anre Gurutta As`ad dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, ketika belajar ilmu Arudhi, gurutta As’ad hanya memilih sejumlah santri pilihan untuk diajar satu malam saja memberikan penjelasan kepada santrinya tanpa buku pegangan. Namun keesokan harinya santri-santrinya telah mampu menerapkannya dalam menelaah kitab kuning. Padahal ilmu Arudhi termasuk salah satu cabang ilmu yang paling sukar dipelajari di dunia pesantren. Dan menurut Gurutta Daud Ismail, metode itu jugalah yang diterapkan Anre Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle dalam menyusun beberapa kitab.

Setelah belajar langsung kepada Anre Gurutta As`ad, di Sengkang beliau kemudian dipercayakan untuk mengajar pada tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meskipun beliau tetap belajar kepada gurutta As’ad. Kebetulan pada waktu itu, belum ada tingkat Aliyah.

Setelah membentuk tim pengajar, Anre Gurutta As`ad, menurut penuturan Gurutta Daud Ismail, tidak lagi langsung berhadapan dengan satri baru. Tapi hanya berhadapan langsung dengan beberapa santri senior. Dari santri senior inilah kemudian mengajarkan kepada santri yang lain.
Gurutta Daud Ismail, temasuk santri yang paling disayangi oleh Anre Gurutta As`ad. Hal itu dibuktikan dengan ketatnya pengawasan kepada beliau. Beliau tidak diizinkan meninggalkan pesantren. Hingga memasuki masa sulit di mana beliau harus meninggalkan Sengkang.

Pada tahun 1942, ketika pecah perang dunia II, merupakan masa sulit yang dialami Gurutta Daud Ismail. Kondisi tersebut membuat beliau terpaksa meninggalkan Sengkang untuk kembali ke kampung halamannya di Soppeng. Salah satu cobaan berat yang beliau hadapi waktu itu adalah berpulangnya kerahmatullah istri beliau, yang pertama. Namun, sayang karena usianya sehingga beliau sendiri sudah lupa siapa nama istri pertamanya itu. Dengan berat hati gurutta As’ad terpaksa harus merelakan kepulangan beliau.

Tak lama kemudian, pada tahun 1942 – 1943 beliau diminta mengajar di Al-Madrasatul Amiriyah Watang soppeng menggantikan Sayyed Masse. Dan waktu itu juga beliau diangkat menjadi Imam Besar (Imam Lompo). Hingga akhirnya beliau memutuskan meninggalkan perguruan tersebut, karena dibatasi gerakannya oleh Nippon dan adanya latihan menjadi tentara Jepang (PETA).

Pada tahun 1944 datang panggilan Datu Pattojo untuk memberikan pendidikan di tempatnya. Sekitar tahun 1945 beliau diangkat menjadi Qadhi Soppeng menggantikan Sayyed Masse (selama 6 tahun) hingga terbentuknya Departemen Agama Kab. Bone pada tahun 1951 yang membawahi wilayah Soppeng. Lalu kemudian diangkat kepenghuluan yang bertempat di Watampone.

Karena wasiat dari gurutta As’ad, bahwa Gurutta Daud Ismai harus kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI. Maka meskipun dengan resiko harus meninggalkan status pegawai negerinya, pada tahun 1953 beliau kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI dan pada masa beliaulah MAI diintegrasikan menjadi Al-Madrasatul As’adiyah (MA) untuk mengenang jasa-jasa Anre Gurutta As’ad.

Namun. Gurutta Daud Ismail hanya menetap dan memimpin MA Sengkang, selama 8 tahun. Karena adanya desakan dari Soppeng agar beliau kembali membina madrasah di daerahnya. apalagi waktu itu beliau merasa sudah ada kader-kader ulama yang dapat menggantikan beliau.

Di soppeng, K.H. Daud Ismail pernah mendirikan Madrasah Muallimin. Dan pada tahun 1967 diangkat kembali menjadi Qadhi dan membentuk Yayasan Perguruan Islam BOW. Beliau juga pernah membentuk organisasi Badan Amal. Dan hingga sekarang beliau tetap membina Ponpes Yasrib.

Adapun karya tangan yang pernah beliau tulis, antara lain Ashshalatu Miftahu Kulli Khaer (bahasa Bugis), Carana Puasae dan Tafsir dan Tarjamah Al-Qur’an 30 Juz dalam bahasa Bugis. Yang terakhir ini merupakan karya terbesar beliau.
Gurutta Haji Daud Ismail meninggal dunia, Senin malam (21/8) pukul 20:00 Wita di rumah sakit Hikmah Makassar dalam usia 99 tahun, setelah menjalani perawatan selama tiga pekan akibat usia lanjut.

Thursday, October 23, 2008

AGH. Muhammad As'ad (1906 - 1952)


Anre Gurutta (AG) H. M. As’ad. (Dalam masyarakat Bugis dahulu beliau digelar Anre Gurutta Puang Aji Sade’). Beliau merupakan Mahaguru dari Gurutta Ambo Dalle (1900 - 1996), adalah putra Bugis, yang lahir di Mekkah pada hari Senin 12 Rabi’ul Akhir 1326 H/1907 M dari pasangan Syekh H. Abd. Rasyid, seorang ulama asal Bugis yang bermukim di Makkah al-Mukarramah, dengan Hj. St. Saleha binti H. Abd. Rahman yang bergelar Guru Terru al-Bugisiy.

Pada akhir tahun 1347 H/1928 M, dalam usia sekitar 21 tahun. AG H. M. As’ad merasa terpanggil untuk pulang ke tanah leluhur, tanah Bugis, guna menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk tanah Wajo khususnya, dan Sulawesi pada umumnya. Beliau berbekal ilmu pengetahuan agama yang mendalam dan gelora panggilan ilahi, disertai semangat perjuangan yang selalu membara. Pada waktu itu, memang berbagai macam bid’ah dan khurafat masih mewarnai pengamalan agama Islam, oleh karena kurangnya pendidikan dan da’wah Islamiyah kepada mereka.

Langkah pertama yang dilakukan beliau setelah tiba di kota Sengkang adalah mulai mengadakan pengajian khalaqah di rumah kediamannya. Di samping itu beliau mengadakan da’wah Islamiyah di mana-mana, serta membongkar tempat-tempat penyembahan dan berhala-berhala yang ada disekitar kota Sengkang. Pada tahun pertama gerakan beliau, bersama dengan santri-santri yang berdatangan dari daerah Wajo serta daerah-daerah lainnya, beliau berhasil membongkar lebih kurang 200 tempat penyembahan dan berhala.

Pada tahun 1348 H/1929 M, Petta Arung Matoa Wajo, Andi Oddang, meminta nasehat Anre Gurutta H. M. As’ad tentang pembangunan kembali masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami, yang terletak di tengah-tengah kota Sengkang pada waktu itu. Setelah mengadakan permusyawaratan dengan beberapa tokoh masyarakat Wajo, yaitu : (!) AG H. M. As’ad, (2) H. Donggala, (3) La Baderu, (4) La Tajang, (5) Asten Pensiun, dan (6) Guru Maudu, maka dicapailah kesepakatan bahwa mesjid yang sudah tua itu perlu dibangun kembali. Pembangunan kembali masjid itu dimulai pada bulan Rabiul Awal 1348 H/1929 M, dan selesai pada bulan Rabiul Awal 1349/1930 M. Setelah selesai pembangunannya, maka Masjid Jami itu diserahkan oleh Petta Arung Matoa Wajo Andi Oddang kepada AG H. M. As’ad untuk digunakan sebagai tempat pengajian, pendidikan, dan da’wah Islam. Sejak itulah beliau mendirikan madrasah di Mesjid Jami’ itu, dan diberi nama al-Madrasah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo.

Tingkatan-tingkatan yang beliau bina pada waktu itu adalah:
1. Tahdiriyah, 3 tahun
2. Ibtidaiyah, 4 tahun
3. Tsanawiyah, 3 tahun
4. I’dadiyah, 1 tahun
5. Aliyah, 3 tahun

Semua kegiatan persekolahan ini dipimpin langsung oleh AG H. M. As’ad, dibantu oleh dua orang ulama besar, yaitu Sayid Abdullah Dahlan garut, ex. Mufti Besar Madinah al-Munawwarah, dan Syekh Abdul Jawad Bone. Beliau juga dibantu oleh murid-murid senior beliau seperti AG H. Daud Ismali, dan almarhum AG H. Abd. Rahman Ambo Dalle.
Pengajian khalaqah (pesantren) yang diadakan setiap ba’da shalat Subuh, ba’da shalat Ashar, dan ba’da shalat Magrib, yang semula diadakan di rumah beliau, dipindahkan kegiatannya ke Mesjid Jami Sengkang.
Pesantren dan Madrasah yang didirikan dan dibina oleh beliau itulah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren As’adiyah sekarang.

Selain Pesantren dan Madrasah tersebut di atas, AG H. M. As’ad juga membuka suatu lembaga pendidikan yang baru, yaitu Tahfizul Qur’an, yang dipimpin langsung oleh beliau, dan bertempat di Masjid Jami Sengkang.
Pada tahun 1350 H/1931 M. atas prakarsa Andi Cella Petta Patolae (Petta Ennengnge), dengan dukungan tokoh-tokoh masyarakat Wajo, dibangunlah gedung berlantai dua di samping belakang Masjid Jami Sengkang. Bangunan itu diperuntukkah bagi kegiatan al-Madrasah al-Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo, karena santrinya semakin bertambah.

AG H. M. As’ad berpulang ke rahmatullah pada hari Senin 12 Rabiul Akhir 1372 H/29 Desember 1952 M. dalam usia 45 tahun. Sesuai dengan wasiat beliau beberapa saat sebelum wafat, peninggalan beliau berupa Madrasah dan pesantren kemudian dilanjutkan pembinaannya oleh dua murid senior beliau; AG H. Daud Ismail, dan AG H. M. Yunus Martan.

Pada tanggal 13 Agustus 1999, berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1959, dan Keppres RI No. 076/TK/Tahun 1999, Presiden RI telah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Naraya kepada AG H. M. As’ad, karena jasa-jasa beliau yang luar biasa terhadapa negara dan bangsa Indonesia. Tanda penghormatan itu diterima di Jakarta atas nama beliau oleh putra beliau, H. Abd. Rahman As’ad.

** Sumber Tulisan: http://www.asadiyahsengkang.or.id/index.php

Wednesday, October 22, 2008

AGH Muhammad Yunus Martan (1906 – 1986)

AGH Muhammad Yunus Martan (1906 – 1986), adalah pimpinan ke-2 Pesantren As’adiyah, sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia bagian timur. Didirikan oleh KH. Muhammad As’ad pada 1928. Pesantren As’adiyah adalah pelopor gerakan Islam tradisionalis moderat di Sulawesi Selatan.

Gurutta Yunus Martan juga merupakan pendiri Radio Siaran As’adiyah (RSA), dengan tujuan menyebarkan gagasan ke Islaman yang menghargai dinamika masyarakat Sulawesi Selatan yang sangat plural, RSA yang berada pada frekuensi 86.4 AM ini didirikan pada 1967.

Gurutta Yunus Martan dinilai tokoh yang paling sukses memimpin Pesantren As’adiyah. Selain berkembangnya cabang-cabang Pesantren
As’adiyah, pendirian radio adalah ide cemerlang yang belum terpikirkan oleh siapapun. Karena itu dulu orang menyebut Gurutta Yunus Martan sebagai kyai yang lahir sebelum zamannya. “Artinya ketika orang lain belum memikirkan radio sebagai media dakwah, beliau sudah memikirkannya.

Gurutta meninggal dunia pada tahun 1986.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA