Friday, February 20, 2015

SEJARAH DDI MODERN:


Gurutta Ambo Dalle Mendirikan Pesantren Mangkoso

Oleh: Abdruhman Yanse Al Mahdali

Dalam catatan sejarah, pesantren DDI dikenal di sulawesi sejak zaman Gurutta AGH.Abdurrahman Ambo Dalle di Mangkoso, Barru, Ketika itu Gurutta Ambo Dalle. Membuka sebuah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Mangkoso, dan menjadikannya pusat pendidikan di Sulawesi. Para santri yang berasal dari berbagai daerah datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Malaysia,

Pesantren MAI Mangkkoso, merupakan cikal bakal berdirinya Madrasah madrasah DDI di sulawesi. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing. Maka didirikanlah Madrasah madrasah dengan mengikuti pada apa yang mereka dapatkan di pesantren MAI Mangkoso.

Kesederhanaan pesantren MAI Mangkoso dahulu sangat terlihat, baik segi fisik bangunan, metode, bahan kajian dan perangkat belajar lainnya. Hal itu dilatarbelakangi kondisi masyarakat dan ekonomi yang ada pada waktu itu. Ciri khas dari pesantren MAI Mangkoso ini adalah rasa keikhlasan yang dimiliki para santri dan Anre Gurutta. Hubungan mereka tidak hanya sekedar sebagai murid dan guru, tapi lebih seperti anak dan orang tua.

Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka mempergunakan rujukan kitab kuning. Di antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Hal itu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci. Seseorang tidak dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat (sosiologi). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu orientied”.

Masa pendidikan tidak didibatasi, yaitu sesuai dengan keinginan santri atau keputusan Anre Gurutta bila dipandang santri telah cukup menempuh studi padanya. Biasanya anre Gurutta menganjurkan santri tersebut untuk keluar mengajar di tempat lain atau mengamalkan ilmunya di daerah masing-masing. Para santri yang tekun biasanya diberi “ijazah” dari anre Gurutta

Lokasi pesantren MAI Mangkoso dahulu tidaklah seperti yang ada sekarang di Mangkoso atau di pesantren DDI lainnya, Ia lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (komplek) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar. Bentuk, sistem dan metode pesantren MAI Mangkoso dapat dibagi kepada empat periodisasi yaitu

Pertama, periode MAI Mangkkoso yang mencerminkan kemodernan dalam sistem, metode dan penguatan kitab kitab Kuning.

Kedua, Periode integrasi MAI Mangkoso Menjadi DDI, yang mencerminkan pengembangan MAI Mangkoso dalam bingkai DDI sebagai organisasi induk yang menaungi Madrasah madrasah yg didirikan Alumni MAI Mangkoso

Ketiga Priode Pesantren MAI Mangkoso menjadi pesantren DDI berstatus otonom yang mandiri, pasca dipindahkannya kantor PB DDI di Parepare

keempat, priode Pesantren DDI Mangkoso menjadi DDI AD pasca meninggalnya AGH Abd.Rahman Ambo Dalle. yang menunjukkan keinginan pesantren DDI Mangkoso kembali ke Mabda DDI yang dinilai telah keluar dari jalur sebagai organisasi pendidikan, dan Da’wah.
.
Periodisasi ini tidak menafikan adanya pesantren sebelum munculnya Pesantren MAI Mangkoso, Pesantren DDI Mangkoso, dan Pesantren DDI AD Mangkoso. sebab pesantren MAI mangkokso sendiri berasal dari Pesantren MAI sengkang, yang dibina oleh AGH As’ad. Demikian juga halnya dengan DDI, sebelumnya telah ada. Justru yang menjadi cikal bakal DDI adalah pesantren MAI Mangkoso yang sudah berkembang, sementara DDI AD adalah Pesantren DDI Mangkoso yang ingin mengembalikan DDI kemabdanya/Khittahnya sebagai Organisasi Pendidikan dan Da’wah, Pembagian di atas didasarkan pada perkembangan pesantren MAI Mangkoso dari dulu hingga kini.

Sifat kemodernan MAI Mangkoso, tidak hanya terletak pada bentuk Kelembagaan yang menyerupai sistem Pesantren pada umumnya di jawa, tapi juga pada bentuk koordinasi dalam pengembangannya. Hal ini tercermin dari didirikannya organisasi bernama DDI, Berbeda dengan MAI Sengkan yang tidak membuka cabang dalam pengembangannya. sehingga tidak memerlukan wadah yang lebih besar dalam pengorganisasiannya sejenis DDI, Hal ini bisa dimaklumi, mengingat sikap kehati hatian AGH Aa’ad yang lebih menekankan pada asepek kualitas dari pada kuantitas pada setiap santrinya, hingga tidak membuka cabang didaerah lain kecuali di Sengkan Wajo.

Dalam hal ini, pesantren MAI Mangkoso telah berani melangkah maju menuju perubahan yang saat itu mendirikan organisasi masih dianggap langka. Namun demikian bukan tidak beralasan. pengorganisasian Madrasah Alumni yang ditarapkan pesantren MAI Mangkoso adalah untuk mendobrak mitos bahwa Madrasah Alumni tidak munkin di diorganisir sehingga sulit berkembang dan selalu ketinggalan zaman. Prinsip inilah yang mengispirasi lahirnya DDI sebagai wadah yang menjembatani kepentingan Pesantren MAI mangkosos dengan Madrasah Alumninya, sekaligus menjadi terobosan baru pada saat itu karena MAI Mangkoso berhasil mengintegrasikan semua Madrasah Alumninya ke dalam organisasi DDI agar MAI Mangkoso beserta Madrasah madrasah Alumninya dapat mengikuti perkembangan zaman dan mampu mewarnai masyarakat dengan segala perubahannya.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA