Wednesday, May 1, 2013

HELMY ALI YAFIE: PEMIMPIN ORMAS DDI YANG IDEAL ADALAH BENTUK KEPEMIMPINAN KOLEKTIF



Petikan Wawancara Tim IMC dengan Drs. KH. Helmy Ali


Dalam pertemuan Tudang sipulung di Samarinda, untuk pertama kalinya sejak IAPDIKA dibentuk, gerakan perubahan yang disuarakan mendapat dukungan dari banyak pihak, ratusan alumni dan tokoh DDI dari berbagai daerah memenuhi ruangan balai kota pemkot Samarinda memberi dukungan dan mendengarkan orasi IAPDIKA, kegiatan orasi ini merupakan bagian dari program sosialisasi gerakan perubahan yang disuarkan IAPDIKA keberbagai daerah, dan sejak terbentuknya IAPDIKA sudah melakukan berbagai kegiatan diantaranya membentuk caban regional di setiap provinsi dan kota, melakukan rakernas, membuat perhelatan “tudang sipulung” seperti saat ini dan, InsyaAllah, pada tanggal 25 Mai mendatang akan diadakan deklarasi dan Dialog Nasional, melihat berbagai kegiatan dan agenda yang telah dan akan dilakukan IAPDIKA sebagai bagian dari gerakan moral yang diperjuangkannya.

Tobloid IAPDIKA dan IAPDIKA Media Centre (IMC) melakukan wawancara dengan berbagai tokoh DDI dan salah satu di antaranya yang dikenal sebagai Tokoh LSM dan cukup akrab dengan alumni DDI adalah Bapak Drs. KH. Helmy Ali Yafie berikut petikan wawancarnya:

IAPDIKA Media Centre :
Apa pandangan Bapak tentang IAPDIKA yang baru saja muncul dalam pergerakan perubahan ditubuh DDI?

Helmy Ali Yafie:
IAPDIKA ini unik,,,, muncul setelah melihat secara langsung sebuah realitas, bahwa tempat yang dulu membentuk mereka menjadi orang seperti sekarang ini, ternyata telah berubah. Kabalangang sudah tidak lagi memiliki fondasi dan roh, sebagimana yang mereka kenal dulu. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan disitu. Menurut mereka Kabalangang sekarang tidak lebih dari sebuah hutan bangunan yang berantakan. Dalam perkembangannya kemudian mereka melihat bahwa sebenarnya ada yang lebih dalam dari itu. Kalabalangang menjadi seperti itu karena DDI, organisasi yang menaunginya telah keluar dari jalurnya, sebagai organisasi pendidikan dan da’wah. Kondisi DDI yang penuh dengan konflik dan intrik mempengaruhi keadaan Kaballangang seperi sekarang ini. Jadi tidak cukup memperbaiki Kaballangang.

Sebenarnya, kalau diperhatikan secara cermat, sudah sejak lama ada orang galau dengan situasi DDI, dan mencoba membangun gerakan semacam ini, untuk mengembalikan DDI pada jalurnya. Hanya saja tidak sebesar sekarang ini, mungkin karena tidak dikomunikasikan dengan baik dan tidak diorganisir secara baik. Mungkin karena aktor-aktornya memiliki kendala dan trauma. Aktor-aktor itu tidak cukup solid, tidak mendapat dukungan. Karena yang diajak kebanyakan memiliki hambatan psychologis. Misalnya banyak diantara mereka adalah pegawai negeri, yang memiliki ketakutan terndiri. Takut kehilangan posisi, atau dilemparkan ketempat terpencil, dan sebagainya. Kondisi mental seperti itu bisa dimainkan dengan sangat baik oleh pihak tertentu yang memiliki kepentingan dalam DDI. Isue itu menjadi semacam teror bagi yang bersikap kritis. Maka banyak yang takut berbeda dengan arus utama yang memegang kendali. Efeknya aktor-aktor yang mencoba menggalang dukungan itu tidak hanya tidak memperoleh dukungan tetapi juga dipinggirkan atau diisolasi. Maka gerakan semacam ini menjadi timbul tenggelam.

Tetapi gerakan ini sekarang berbeda. Ini di motori dan didukung oleh sebuah generasi baru, yang relative independen, yang memiliki pengalaman berbeda dengan yang sebulumnya. Mereka tidak lagi bisa ditakut-takuti dengan ancaman kehilangan mata pencaharian.

IAPDIKA Media Centre :
Bagaimana pandangan anda terhadap DDI sekarang ini? apakah memang dianggap terpuruk atau bagaimana?

Helmy Ali Yafie:
Tentu ini ada kaitannya dengan keadaan DDI sekarang, atau beberapa tahun belakangan ini. DDI, yang merupakan organisasi pendidikan dan da’wah, yang berbasis pada pesantren, dianggap telah keluar dari jalur, dan karena itu kehilangan roh dan arah. Badannya tetap pendidikan dan da’wah, tetapi tanpa roh pendidikan ada da’wah, lebih mirip organisasi politik. Coba saja lihat kalau ada muktamar, atau konprensi, suasana tidak berbeda dengan muktamar sebuah parpol. Peserta di mobilisasi sedemikian rupa untuk mempengaruhi suasana rapat untuk memenangkan suatau kepentingan tertentu. Suasananya hingar binger, penuh ketegangan, pokoknya menakutkan deh. Kekuatan-kekuatan luar diundang masuk untuk menyelesaikan persolan. Ini kan artinya tidak percaya kepada kawan. Logikanya kan, seharusnya kalau persoalan internal ya kita pecahkan bersama, tanpa campur tangan dari luar.

Lebih jauh, perhatian peserta didorong hanya fokus kepada pemilihan pemimpin. Tema utama muktamar adalah siapa yang akan menjadi “ketua”, bukan program atau kegiatan (untuk kestabilan dan kemajuan pendidikan); kalaupun (program) dibicarakan itu hanya prioritas kesekian. Jadi memang orang tidak melihat lagi, “dari mana mau kemana DDI dan ada dimana DDI” tidak dipersoalkan. Setelah pemimpin terpilih maka segala persoalan sudah selesai. Selanjutnya mau dibawah kemana DDI, ya terserah pemimpin saja. Hal seperti itu tidak pernah terjadi di zaman generasi pertama DDI.

Karena hanya bicara pemipin, atau kekuasaan, maka terjadi intrik-intrik, lalu orang saling menyudutkan, saling melecehkan. Jangan kepada sesama kawan, saudara seperguruan, kapada guru pun tidak apa penghargaan.

Efek yang lebih jauh adalah DDI kehilangan kewibawaan. DDI sebenarnya sebagai sebuah organisasi cakupannya Nasional. Tetapi sekarang ini secara nasional DDI tidak cukup dikenal. Dulu, pada masa-masa generasi pertama, nama DDI cukup harum sampai ketingkat nasional. Saya kira nama-nama seperti Anregurutta Ambodalle, Anregurutta Pabbaja, dan Anregurutta Ali Yafie, bukan nama asing di tingkat nasional. Beliau-beliau itu misalnya aktif di MUI dan mempengaruhi proses-proses pengambilan keputusan di MUI. Boleh jadi beliau-beliau tidak datang ke MUI sebagai utusan DDI, tetapi semua orang tahu kalau beliau-beliau adalah tokoh DDI. Ditingkat nasional orang perorang atau institusi meminta fatwa kepada beliau-beliau itu jika menghadapi persoalan yang sulit dipecahkan. Beliau-beliau menjadi rujukan. Bahkan suaranya bisa mempengaruhi sebuah kebijakan di tingkat nasional; tidak hanya pada social keagamaan dan pendidikan.

Itu tidak berarti bahwa tokoh-tokoh sekarang tidak memiliki kualitas memadai. Saya kira ada banyak tokoh DDI sekarang ini yang kualitas keilmuanya tidak di ragukan. Tetapi tokoh-tokoh tersebut tidak cukup memperoleh kesempatan untuk tampil ditingkat nasional, karena tidak di fasilitasi oleh organisasi.

Ini ada kaitannya dengan kepemimpinan organisasi. Pada Zaman gurutta, atau generasi pertama, sangat menonjolkan kebersamaan, penghargaan satu sama lain. Mementingkan kemaslahataan umum. Gurutta memang ada dipuncak hirarky, dan selalu menjadi kata akhir, tetapi dalam proses-proses pengambilan keputusan Beliau selalu meminta pandangan yang lain. Beliau memutuskan berdasarkan masukan-masukan dan pertimbangan-pertimbangan yang lain. Selalu ada musyawarah. Tentu ada perbedaan, karena perbedaan karakter, tetapi perbedaan itu dikelola dengan penuh empati, sehingga santun. Kepemimpinan pada generasi pertama itu, kurang lebih sama dengan apa yang kita kenal sekarang ini dengan istilah “kepemimpinan kolektif”, atau kepemimpinan yang partipatif-demokratis. Sangat aspiratif (mendengar suara yang datang dari bawah). Maka birokrasi yang dibangun pun tidak kaku dan berbelit.

Yang juga menonjol adalah saling mempromosikan, saling mendahulukan. Yang lebih senior menyiapkan dan memberi panggung kepada yang lebih muda, atau yang sudah memperoleh banyak kesempatan member ruang kepada yang belum memperoleh kesempatan. Tidak saling memotong, atau saling meminggirkan, maka kemudian tidak heran kalau kemudian banyak tokoh yang bisa tampil dipanggung-panggung regional dan nasional.

IAPDIKA Media Center:
Anda cukup dekat dengan kader-kader DDI yang pro status qou. hal ini ditandai dengan kedatangan beberapa alumni Kaballangang ke kediaman anda di Jampue dan menyampaikan kepada anda bahwa tidak pantas menyandingkan pa Rusdy dengan pa Muiz dalam muktamar karena kasihan nanti pa Rusdy.... bagaimana anda melihat permintaan ini?

Helmy Ali Yafie:
Saya kira tidak kejadian seperti itu. Tetapi oke, Kita bicara soal kepemimpinan DDI. Kalau melihat keadaan sekarang ini tampaknya memang DDI, kalau mau berdiri tegak dengan kokoh dalam masyarakat, memerlukan orang-orang memiliki memahami visi-misi organisasi (DDI sebagai organisasi pendidikan dan da’wah, yang berpijak pada ajaran Islam Ahlussunnah awal Jama’ah) secara utuh, memiliki keluasan hubungan, dan memiliki komitmen untuk membangun kembali DDI pada jalurnya (sebagai organisasi pendidikan dan dakwah, seperti yg saya sebuatkan diatas), memiliki pemahaman tentang sejarah DDI. Orang-orang seperti ini sebenarnya ada sekarang ini. Mereka itu memiliki karakter yang sangat kuat, sebagai “orang DDI”, mati-hidupnya bersama DDI. Sekarang ini yang memiliki karakter seperti ada beberapa orang, salah satunya Bapak Dr. KH. Rusdy. Kepemimpinan Bapak Rusdy tidak diragukan, sebab dia lahir dan besar bersama DDI. Beliau mengalami pahit getir DDI. Tidak ada orang yang lebih merepresentasikan keadaan DDI sebenarnya, kesakitan DDI, kecuali beliau itu.

Saya kira tidak ada orang yang meragukan kepemimpinan beliau itu. Sebab segala persyaratan (keilmuan dan karakter) ada pada beliau. Kalau memang orang DDI tulen yang melakukan pemilihan (untuk menentukan pimpinan DDI) maka bisa dikatakan otomatis pilihan itu jatuh kepada beliau. Tetapi pertanyaan adalah apakah forum pemilihan hanya diikuti oleh orang DDI tulen. Kalau tidak, muktamar itu rawan untuk di manipulasi, dan kalau itu terjadi maka keadaannya menjadi berbeda. Kalau bercermin pada pengalaman masa lalu, atau proses-proses pemilihan diberbagai tempat sekarang ini, kekhawatiran ini cukup beralasan.

IAPDIKA Media Center:
Menurut pandangan anda apakah kader-kader IAPDIKA dan “passelle pasau” yang dicanangkan oleh anak-anak IAPDIKA diharapkan akan mampu membawa DDI ke arah yang lebih baik?

Helmy Ali Yafie:
Seperti yang sebutkan tadi DDI sekarang mengalami apa yang disebut berjalan ditempat, atau bahkan berjalan mundur, dan itu yang mendorong munculnya gerakan dari kalangan anak muda DDI, yang tergabung dalam IAPDIKA. Ini generasi baru, yang relative merdeka dan mandiri. Mereka tidak terbebani oleh kepentingan-kepentingan pihak-pihak dari luar DDI yang memiliki kepentingan terhadap DDI. Mereka bergerak karena risau dengan keadaan yang saya sebutkan tadi.

Jadi ini gerakan tidak didasarkan atas pertimbangan untung-rugi, tetapi ini adalah panggilan hati. Ini murni. Bebas dari kepentingan politik. Ini sebenarnya bisa disebut “gerakan moral”. Semata-mata untuk mengembalikan DDI pada jalurnya, supaya DDI bisa berdiri kokoh di tengah masyarakat yang tergerus oleh proses modernisas itu yang seringkali tidak manusiawi.

IAPDIKA Media Center:
Seandainya nanti IAPDIKA berhasil melakukan terorbosan baru dalam DDI, apakah anda siap menjadi salah satu pigur di DDI khususnya membantu DDI di tingkat nasional.

Helmy Ali Yafie:
Saya kira ada banyak tokoh yang lebih kompoten. Barangkali kapasitas saya tidak cukup untuk menjadi figure. Tetapi sebagai orang lahir dari rahim DDI, maka menjadi kewajiban bagi saya untuk membantu DDI, tentu sesuai dengan kapasitas yang saya miliki.

IAPDIKA Media Center:
Saat ini masih banyak anak-anak DDI yang kurang mendukung pergerakan IAPDIKA, apa saran anda kepada anak IAPDIKA dan anak-anak DDI lainnya yang tidak mau bergabung ke dalam IAPDIKA?


Helmy Ali Yafie:
Begini, sebenarnya kita seringkali tidak menyatakan pendapat sendiri, tetapi menyatakan pendapat orang lain, bahkan kita sering tidak memilih sesuai dengan pilihan kita tetapi lebih banyak memilih pilihan orang lain. Itu karena kita tidak jernih melihat persoalan. Kekaburan pandangan kita bisa macam-macam penyebabnya. Mungkin karena bujukan orang lain yang memang memiliki kemampuan membujuk luar biasa, karena bisa memberi janji-janji (pangkat, jabatan, dsb) yang masuk akal, dan sebagainya. Bisa juga karena kita diberi sesuatu, misalnya uang, atau jasa tertentu,yang membuat kita merasa berhutang budi. Bisa juga karena dia memanipulasi perasaan-perasaan (sentiment) kita. Itu sih manusiawi. Tetapi perlu kita lakukan sebenarnya membangun kemampuan untuk melihat hal-hal mendasar yang punya konsekuensi luas dan dalam terhadap kehidupan. Tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Satu dua fakta belumlah cukup untuk sebuah kesimpulan. Memang tidak baik menunda-nunda kesimpulan. Tetapi terburu-buru mengambil kesimpulan bisa berakibat fatal. Dalam hal seperti ini kita perlu cermat untuk dapat melihat persoalan secara jernih.

IAPDIKA Media Center:
Kira-kira pertemuan silaturrahim warga DDI di Samarinda ini memiliki bobot untuk mempersatukan warga DDI?

Helmy Ali Yafie:
Saya kira banyak hal yang dibicarakan dalam acara silaturrahmi di Samarinda, baik yang dilakukan secara formal maupun yang tidak formal. Misalnya bahwa salah satu mimpi semua orang, semua unsure dalam DDI adalah “DDI yang satu” sebagai sebuah organisasi dan sebagai sebuah gerakan pendidikan dan dakwah. Adanya dua DDI ini karena terpaksa. Itu terjadi karena DDI dianggap telah keluar dari jalur, dan kehilangan roh. Kalau ada gerakan untuk mengembalikan DDI ke jalurnya, mengembalikan semangatnya, maka tidak akan ada lagi dua DDI. Tetapi kalau itu tidak dilakukan maka tidak hanya ada dua, tetapi mungkin ada tiga, empat DDI dan seterusnya. Ini adalah sebuah landasan. Artinya pertemuan Samarinda memberikan landasan bergerak yang cukup jelas untuk bergerak memperbaiki keadaan yang ada sekarang ini.

IAPDIKA Media Center:
Konsep apa kira kira yang harus dibuat dalam kepemimpinan lembaga DDI sehingga tidak ada perpecahan antara DDI sebagaimana sekarang ini?

Helmy Ali Yafie:
Saya kira kita harus kembali kepada prinsip-prinsip kepemimpinan (keiikhlasan, pengabdian, mengutamakan kemashlahatan umum, keberpihakan) yang pernah diajarkan dan dipraktekkan oleh Gurutta, kepemimpinan yang menjadi khas pada para ulama. Boleh jadi kedengaran tidak realistis sekarang. Tetapi itulah prinsip. Itu yang kemudian memberikan landasan, sehingga pemimpin bisa mendengarkan, bisa memberdayakan umatnya, para pengikutnya. Mendidik dan Memfasilitasi mereka sehingga menjadi manusia yang utuh dan seimbang. Memang sekarang ini banyak dikembangkan mitos (modernisasi) bahwa nilai-nilai seperti itu tidak relevan. Kita lebih banyak didorong menjadi orang yang lebih invidualistik dan pragmatis; kita kemudian melakukan sesuatu atas dasar pertimbangan untung-rugi. Banyak diantara kita yang termakan oleh mitos modern itu, dan efeknya adalah berada kondisi seperti yang dialami DDI sekarang ini; terbelah. Itu mitos, yang menjauhkan kita dari nilai-nilai yang menjadi landasan kita bertindak, dan itu tampaknya dikembangkan agar kita bisa dikontrol. Tetapi lihat apa yang dilakukan oleh kawan-kawan IAPDIKA ini. Mereka melakukan itu semua tanpa pertimbangan untung rugi, penuh dengan semangat kebersamaan, untuk sebuah cita-cita luhur.

Tegasnya DDI perlu kembali kepada kepemimpinan ulama dengan ciri seperti yang saya sebutkan di atas. Kepemimpinan yang mendidik, mencerdaskan, menguatkan dan memberdayakan orang; bukan yang memperdayakan. Boleh jadi karakter itu tidak dimiliki satu orang, maka kepemimpinan kolektif juga bisa menjadi salah satu opsi. Yang jelas, orang yang mempimpin DDI seharusnya adalah Ulama, dengan basis dan tradisi pesantren (DDI) yang jelas. Dulu ada yang mengatakan bahwa ulama itu lemah dalam manajemen. Saya kira itu juga mitos. Buktinya dulu (generasi pertama) DDI bisa jalan dengan sangat baik, dan besar; di tangan para ulama.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Recent Posts

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA