Tuesday, February 12, 2013

IAPDIKA DAN LEMBAGA "PASSELLE PASAU" (KHALIFATUN 'UZMAA):



EXESTENSI ANAK BIOLOGIS DI DDI
Oleh: Rahman Mahdaly
Perkembangan sebuah pesantren bergantung sepenuhnya kepada kemampuan pribadi kiainya. Kiai merupakan elemen yang paling pokok dari sebuah pesantren. Itulah sebabnya kelangsungan hidup sebuah pesantren sangat bergantung pada pesantren tersebut untuk memperoleh seorang kiai pengganti (Passele Pasau) yang berkemampuan cukup tinggi pada waktu ditingal mati kiainya.
 
Sementara kepemimpinan yang berlangsung secara tiba-tiba atau mendadak sepeninggal kiayainya tampa melalui prosudur yang jelas sering kali menimbulkan kontaversi siapa yang paling berhak menjadi calong pemimpin, sementara upaya untuk mengatasi kontraversi tersebut kadang membutuhkan waktu yang cukup panjang, hingga tegaknya kepemimpinan kharismatik yang baru.
 
Karena itu cara praktis yang ditempuh pesantren pada umumnya di Tanah air iaitu dengan mengembangkan suatu tradisi bahwa keluarga yang terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimpinan pesantren, mengembangkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kiai, dan mengembangkan transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama kiai dan keluarganya.
 
Tetapi dalam konteks DDI Tradisi ini tidak dikembangkan bahkan cendrung ditolak dengan alasan Gurutta sebagai Founding Father DDI tidak pernah menunjuk ahli warisnya dari anak biologis sebagai mengelola DDI, kecendrungan penolakan atas anak biologis Gurutta ini diperkuat dengan argumentasi bahwa tugas Gurutta dalam metranpormasikan nilai-nilai ke anak-anaknya sudah selesai sehingga urusan kepemimpinan di DDI diserahkan sepenuhnya kepada genarasi selanjutnya.
 
Argumentasi ini sebenarnya tidak sesuai dengan fakta dan bukti yang ada, karena Gurutta sering menempatkan anak biologisnya dalam struktur Pengurus DDI bahkan pernah meng-SKk-an anak biologisnya Dr. Rusdy Ambo Dalle sebagai Pimpinan Pesantren DDI Ujung Lare dengan SK Nomor: PB/B.II/028/X/1994.
 
Hanya saja waktu itu H. Muiz Kabry keberatan dan menolak hadir pada saat serah terimah jabatan yang dilaksanakan pada Tanggal 16 Pebruari 1996 di kediaman Gurutta di Parepare, jadi kecendrungan penolakan anak biologis Gurutta dan arguemtasi yang menolak tradisi bahwa keluarga yang terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimpinan (Passele Pasau) di DDI sebenarnya hanyalah upaya segelintir politisi DDI yang merasa terancam dengan keberadaan Passele Pasau dari anak biologis Gurutta.
 
Terlebih lagi dengan munculnya gerakan perubahan yang dipelopri IPDIKA mengusung anak Biologis sebagai Tokoh "Passele Pasau" pada Muktamar DDI 2014.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

Blog Archive

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA