Friday, February 1, 2013

EPISODE II "MENYINGKAP BERKAHNYA ANREGURUTTA AMBO DALLE DARI TANAH BUGIS":



Belajar Kitab Kuning dengan Lampu Tembok
Waktu demi waktupun kulalui di Pondok Pesantren DDI Kaballangang bersama kedua saudara sepupuku, di sebuah Asrama dengan ke-hidupan yang benar-benar sangat mandiri, dengan kehidupan yang sederhana jauh dibanding dengan kehidupan yang aku rasakan waktu di kampung halaman yang serba ada. Dengan hanya mengandalkan pelita atau lampu tembok di malam hari, sayapun mulai membiasakan diri dengan memasak sendiri, mencuci pakaian sendiri, mempersiapkan segala sesuatunya dengan sendiri, disamping harus mempelajari banyak mata pelajaran dari sekolah dan kitab-kitab yg dipelajari di mesjid, yang kebanyakan dalam pelajaran tersebut di dominasi oleh pelajaran-pelajaran menggunakan Bahasa Arab. 

Penulispun mulai menghafal kosa kata bahasa Arab dari sebuah kamus yang penulis beli sewaktu di pare-pare, tepatnya di sebuah toko yang bernama Toko Arti, untuk menunjang pelajaran saya agar lebih mudah memahami isi kandungan buku-buku pelajaran yang penulis pelajri di pesantren. 

Pada saat itu penulis sangat sulit untuk menerapkan bahasa Arab yang penulis telah hafal beberapa mufradat (kosa kata) bahasa Arabnya, sebab dikarenakan bahasa yang diterapkan di lingkungan pesantren tetap memakai bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing para santri, jadi kosa kata bahasa Arab yang telah penulis hafal sangat mudah hilang dari ingatan, karena tidak pernah di coba untuk memakainya sebagai percakapan sehari-hari, malah saya sering mempelajari bahasa-bahasa daerah yang menurut penulis sangat asing dan aneh... 

Penulis sering belajar kepada teman-teman tentang bahasa daerah mereka, seperti penulis sering belajar kepada saudara Nu'man dan Nurdin Tolai tentang bahasa Kanang Polewali Mandar yang kebetulan saudara Nu'man dan Nurdin Tolai adalah satu kelas penulis sendiri.
Begitulah hari demi hari sayapun malah sering sibuk dengan mempelajari bahasa-bahasa daerah yang memang bermacam-macam logatnya; selain bahasa Kanang ada juga bahasa Makassar, Mandar, bahasa kaiyle (Palu), dan bahasa Pinrang sendiri, hingga sipenulispun sudah sangat kurang menghafal mufradat bahasa Arab dan bahasa Inggris yang sering kali sudah terabaikan. 

Walaupun begitu saya tetap merasa bahagia berada di lingkungan Pondok Pesantren DDI Kaballangnang yang mempunyai banyak teman-teman dari berbagai macam suku, Bahasa dan budayanya, itulah "Bhinneka Tunggal Ika". Waktupun berlalu terus dengan berbagai macam kegiatan kepesantrenan dan kesantriannya yang penulis ikuti, selain bersekolah di pagi harinya, melakukan sholat secara berjama'ah di mesjid Al-Washilah dengan program-program kitab kuningnya, sehabis Sholat Magrib dan sesudah sholat subuh atau dengan kata lain 'Alaqah dengan kitab-kitab kuningnya sbb:
  1. Tafshirul-jalalain
  2. Syarhul Hikam
  3. Irsyadul-Ibad
  4. Maraqil-Ubuwdiyyah
  5. Mukhtarul-Hadits
  6. Buwlugul-Maram
  7. Riyadus-Sholihin
  8. Jawahirul-Bukhari
  9. Kifayatul-Akhyar,
  10. Hushunul Hamidiyah
  11. Durratun Nashihin
yang kesemuanya itu wajib dimiliki kitabnya oleh semua santri DDI Kaballangang, serta di ajari langsung oleh Al-mukarram GURUTTA' KH Abdurrahman Ambo Dalle, Gurutta H.M. Yunus Shamad Lc, Gurutta H. Luqmanul-Hakim Lc, Gurutta Drs. H. Jamaluddi Semmang, dan terkadang di isi langsung oleh para kiyai-kiyai seperti Gurutta KH. Abdullah Pabbaja, KH. Muh.Yusuf Hamzah, KH.Abu Bakkar, dan tahun-tahun berikutnya juga diisi oleh DR. H. Abdul Rahim Arsyad, MA dan Dr. H. Andi Syamsul Bahri, MA. 

Dengan pelajaran-pelajaran tersebut maka sipenulis harus giat belajar lagi karena semua pelajaran tersebut semuanya menggunakan bahasa Arab dan tidak mempunyai garis, atau istilahnya kitab Gundul. Dari situlah sipenulis memutuskan untuk belajar ilmu Nahwu shorof kepada Guru, agar bisa membaca kitab-kitab kuning tersebut, walaupun di sekolah juga di ajarkan, dan pada sore harinya jg ada jadwalnya, akan tetapi sipenulis merasa masih kurang puas, sebab satu keinginan sipenulis jika di suruh membaca oleh Anregurutta sipenulis bisa membacanya. 

Maka atas Informasi teman-teman dari Takkalasi (Muallim) sipenulispun beserta syahruddin Idris (cahyo) pergi belajar Ilmu Nahwu Shorof di rumah salah satu Guru kami di pesantren yaitu Gurunda Almarhum H.Jamalu... Kamipun belajar di rumah beliau, dan Beliaupun mengajari kami dengan tekun dan ikhlas, terkadang diselingi dengan lelucon dengan khas beliau, tanpa memungut biaya sepeserpun dari kami dan lainnya seperti Muallim, Suratman, sirajuddin (conding) dan ain-lainnya. 

Dari ketekunan Gurunda H. Jamalu dalam mengajari kami, sehingga kamipun sangat memahami pelajaran Ilmu Nahwu Shorof dan juga sdh mulai lihai dalam hal mangera', yang pada waktu itu sipenulis masih duduk dibangku kelas 1 Tsanawiyah, khususnya sipenulis walaupun saat itu masih duduk di bangku kelas 1 Tsanawiyah akan tetapi terkadang pelajaran kelas 3 tsanawiyah dan 1 Aliyah dalam bidang Ilmu Nahwu Shorof sudah kami mengerti, dari situ jualah sipenulispun bisa membaca kitab-kitab gundul dengan agak lancar, jadi tidak ada lagi rasa takut jika berada di shap depan waktu belajar kitab kuning sehabis Magrib dan subuh di masjid Al-washilah, itupun dibuktikan dengan nilai pelajaran sipenulis di sekolah dengan mendapatkan nilai yang jayyid.


Waktupun berlalu begitu saja tanpa merasakan kembali kerinduan akan kampung halaman, kegiatan-kegiatan kepesantrenan membuatku sibuk,sehingga merasakan kebetahan dan ke-nyamanan di dalamnya. Suara Adzan serta suara dari Ustaz yang bertindak sebagai Keamanan campus, seakan terasa tiada henti-hentinya meneriakkan suaranya untuk membangunkan para santrinya, agar supaya melaksanakan sembahyang secara ber-jama'ah di Mesjid Al-Washilah.

Suara dari canda dan tawa para santri-santri, semakin membuat suasana campus semakin ramai dan meng-Asyikkan, sipenulispun larut dengan suasana tersebut dengan suasana pondok yang sudah menjadi akrab dan tidak terasa asing lagi bagi sipenulis. 

Suka dan duka di pondok pesantren DDI Kaballangang terus kujalani dengan ber-bagai macam kegiatannya, Selain ber-olahraga seperti; Bermain Bola dan sepak Takrouw, penulispun ikut dalam bidang kegiatan Rebana (Sholawat Badar) yg di ajari oleh salah seorang Guru yang bernama Ustaz Ahmad Saad Hamdany, yang tak lain adalah wali kelas sipenulis sendiri, waktu sipenulis masih duduk di tingkat kelas 1-1 tsanawiyah, bersama santri-santri lainnya seperti; Kanda Sueb Aiy, saudara Rahman Arsyad, Andi Muhamad Nur Pabbicara, Mayoenk, dll, yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu Namanya. Begitupula dengan kegiatan Drum Band dan Gerak jalan (Pelajaran Baris ber-Baris), penulispun mengikuti dan masuk sebagai Anggota Drum Band, yg di ajari oleh salah seorang Guru yang bernama; Ustaz Imaran Daniel,dan yang bertindak sebagai Mayoretnya pada sa'at itu adalah saudara Faisal As-Sauqy dan saudara Darwis ssunnah kalau tidak salah. Walaupun pada sa'at itu sipenulis di dalam kelompok Anggota Drum Band hanya bertindak sebagai pemegang bendera saja, Maklum pada sa'at itu sipenulis masih kecil sekali bodinya...hehehe... 

Akan tetapi penulis jalani semua kegiatan tersebut dengan hati yang penuh riang dan gembira. 

Adapula kegiatan para santri pada sa'at itu yang diluar program kepesantrenan yang tidak lepas dari keikut sertaan sipenulis yaitu; Anccaba (Anak Campus Candu baca doang), pergi kepesandorang bersama teman-teman (majjampu dan maccuncung, juga sering kerumahnya nenek Mansuha bersama dengan santri-santri lainnya yang lebih senior dari penulis, seperti Kanda Jumran Tawas (Jundang Coma) yang memang sudah penulis anggap sebagai kakak penulis sendiri, seperti halnya kanda Muh Rijal Idris, dan lain-lainnya, serta tidak pernah melewatkan dalam mengikuti siaran sandiwara radio drama kolosal yang terkenal dan digandrungi oleh mayoritas santri pada waktu itu adalah; Saur Sepuh Brama Kumbara.

Khusus kepesandorang (Majjampu dan maccuncung); adalah sebuah kegiatan yang diluar program kepesantrenan, hanya lebih kepada Rafreeshing, untuk menghilangkan penat dari berbagai macam program-program Formal kepesantrenan yang telah diikuti oleh para santri-santri DDI Kaballangang, dan kegiatan ini hampir semua santri kaballangang pernah menjalaninya termasuk si penulis sendiri, yang terkadang dengan kegiatan tersebut sering mendapatkan sangsi Indisipliner dari Guru yang bertindak sebagai keamanan Campus sa'at itu, dikarenakan dengan kegiatan tersebut, sering mengorbankan kegiatan program kepesantrenan seperi misalnya; Belajar di sore harinya. penulispun menjalaninya dengan enjoi dan Ikhlas saja, sebagai kembang-kembang di kehidupan Pondok Pesantren DDI Kaballangang. 

Terlepas dari itu semua, pernah terjadi pada diri penulis sendiri, suatu kejadian yang menurut sipenulis adalah sebagai pembelajaran buat sipenulis pribadi; Tepatnya pada waktu itu sipenulis masih tinggal di sebuah asrama yang letaknya di depan rumah Almarhum Gurutta H. Fatahuddin, kejadiannya pada saat malam tiba yang hanya menggunakan lampu tembok sebagai Alat penerangannya, ba'da Isya, penulispun diajak oleh seorang senior sipenulis, yang tak lain adalah Kakak sepupu penulis sendiri yaitu; Muh.Amin Iskandar, untuk keluar dari areal pesantren menuju ke sebuah kampung yang bernama Sokang, untuk menonton film layar tancap. 

Padahal pada waktu yang bersamaan ada kegiatan kesantrian yang dilaksanakan di mesjid Al-Washilah pada saat itu yaitu; Tamriynul-khitabah atau Training Dakwah, yang saat itu penulis belum tau program kesantrian tersebut, dikarenakan penulis pada saat itu masih tergolong sebagai murid baru, dan tanpa memikirkan apa dan bagaimana, penulispun bersama saudara Muh.Amin Iskandar bergegas berangkat ke tempat acara yang ada di Sokang. 

Dengan menggunakan jalan pintas yang ada di belakang Asrama yang penulis tempati, yang penuh dengan rumput-rmput ilalang dan semak-semak belukar disertai dengan kotoran-kotoran sapi yang memang diternak dalam lokasi pesantren, kamipun melewati jalanan tersebut disamping dekat juga lebih aman dari segi pengawasan keamanan campus. Dalam perjalanan di kegelapan malam tersebut, tepatnya pas lagi akan melewati arah belakang rumah seorang Guru yang bernama H.Jamaluddin atau yang lebih dikenal dengan nama H.jamalu, tiba-tiba seberkas cahaya yang lagi menerangi jalanan yang akan kami lewati, kamipun menghentikan laju jalan kami agar tidak terlihat oleh sang penyenter tersebut. Kamipun bersembunyi dengan cara menundukkan kepala kami diketinggian padang-padang ilalang, tiba-tiba sinar lampu tersebut cahanya menuju kearah kami, kamipun kelabakan di buatnya. Di tengah kepanikan tersebut, dengan spontan saja Kanda Muh.Amin Iskandar memgang kepala penulis dan menekannya lagi, agar lebih merunduk hingga wajah penulispun mengenai tanah, dengan harapan bisa terlindung oleh lebatnya ketinggian rumput-rumput ilalang dari sinar lampu sang penyenter tersebut.tanpa disadari sang penulis, karena saking takutnya agar supaya tidak ketahuan, tanpa disadari bahwa pipi serta talinga sipenulis terasa agak terganjal oleh sesuatu yang lumayan empuk dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, setelah sinar lampu tersebut tdk lagi menyala, barulah kami bangkit dari persembunyian dan betapa kagetnya sipenulis dan bahkan hendak muntah setelah mengetahui bahwa yang mengenai pipi sipenulis adalah sebuah kotoran sapi, sontak saja sipenulispun bergegas agas bisa sampai ke sebuah warung diseberang jalan untuk membasuh wajah sipenulis, kamipun terus bergegas dengan melewati pagar kawat yang berduri dan akhirnya sampai ditepi jalan pas didepan rumahnya Eda (salah seorang masyarakat yang berjualan dekat lingkungan Pesantren yang sering penulis datangi untuk membeli nasu bale). Penulispun mencuci muka untuk membersihkan kotoran tersebut, setelah itu kamipun melnjutakn perjalanan kami menuju kesokang tempat acara tersebut di gelar. 

Singkat cerita tibalah kami di sokang tempat acara tersebut, dan betapa kagetnya si penulis, sebab dugaan penulis sebelumnya hanyalah penulis dan Kanda Muh.Amin Iskandar saja yang berangkat ke sokang dengan tidak menghadiri kegiatan kepesantrenan yaitu Training Dakwah di mesjid Al-Washilah, ternyata di tempat acara tersebut sdh banyak para santri-santri yang rata-rata adalah senior penulis, dan tidak ketinggalan juga Kakak-kakak sipenulis sendiri; diantanya Kanda Muh.Rijal Idris, Kanda Jumran Tawas, Abd Mu’in, Musadi, dan lain-lainnya. Penulispun ikut bergabung dengan para senior-senior, dan disitulah penulis dimarahi (Denasehati) oleh senior-senior yang sudah penulis anggap sebagai kakak penulis sendiri (Muh.Rijal dan Jumran Tawas), Selajur berkata dengan menggunakan bahasa bugis; “Nappakoje’ ttama’ massikola (Murid baru) ma’guruno mmessu’-essu’, dena mulokka ma’guru ko Masiji-E “, itu kalimat yang saya masih ingat dari kandaku berdua, penulispun hanya bisa terdiam dan menyesali diri, dan berjanji dalam hati bahwa; Tidak akan mengulangi lagi. Setelah itu penulispun duduk bareng-bareng dengan para senior-senior tersebut, dengan sekaleng minuman 7 UP dan makanan ringan di tangan, kamipun menyaksikan film layar tancap tersebut dengan hanya duduk melantai di tanah lokasi pohon salak yang lumayan luas.sipenulispun mengambil suatu hikmah dari kejadian tersebut bahwa; penulis saat itu sudah banyak lebih akrab dengan para senior-senior penulis, ketimbang dengan teman leting penulis sendiri.dengan kejadian tersebut penulispun kembali berjanji di dalam hati bahwa; Tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk yang kedua kalinya, dan akan selalu berusaha tekun belajar dan mematuhi peraturan-peraturan kesantrian yang telah ditetapkan oleh Pondok Pesantren Manahilil-Ulum Addariyah DDI Kaballangang.

Bersambung

Artikel berhubungan:

Mengejar Berkahnya Gurutta Ke Tanah Bugis

 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

Blog Archive

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA