Sunday, February 17, 2013

KHALIFAH DAN PASSELLE PASAU:

Oleh: Dr. M. Suaib Tahir
Mencermati peristiwa Muktamar ke-18 tahun 1998, menukil tulisan di website Ponpes Al Badar Bilalang Pare-Pare (terlepas maqbul atau mardud), mengingatkan kita pada peristiwa pasca wafatnya Rasulullah Saw yang ditandai dengan pertarungan menuju kepemimpinan. Rasulullah tidak menunjuk siapa diantara sahabat atau keluarganya yang akan menggantikan beliau setelah wafat? apakah sahabat karibnya yang sangat loyal kepada Rasululullah semenjak kecil seperti, Saayidina Abu Bakar Assiddiq r.a. atau dari keluarganya yang dianggap memiliki potensi menjadi pemimpin ummat seperti Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a. atau sahabat lainnya seperti Umar bin Khattab r.a. atau Usman bin Affan r.a. yang semuanya memiliki hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah baik itu karena pernikahan antara keluarga ataupun karena hubungan darah. Rasulullah tidak menunjuk siapa di antara mereka yang akan menggantikannya untuk memimpin ummat jika ia meninggal dunia.

Bagi yang memahami Islam secara universal, tentu akan berpandangan bahwa dibalik kebijakan Rasulullah yang tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya setelah wafat, adalah sebuah hikmah dan petunjuk bahwa konsep kepemimpinan dalam Islam akan selalu sesuai dengan zaman dan consensus umum di kalangan masyarakat Islam di kemudian hari, apakah itu melalui demokrasi atau kudeta atau bentuk lain seperti dinasti atau monarchi dan lain-lain sebagainya. Akan tetapi yang perlu dicatat bahwa Rasulullah telah melettakan prinsip-prinsip dasar yang harus diikuti dalam menentukan pemimpin atau kriteria seorang pemimpin ummat. Namun bagi mereka yang tidak memahami Islam secara universal, maka akan menilai sebagai suatu kekhilafan dan ketidaksempurnaan atau kejanggalan dalam Islam (nauzubillah minzalik).

Gurutta-pun demikian, tidak menunjuk siapa yang akan menggantikan posisinya setelah ia meninggal, apakah dari anak biologisnya atau ideologisnya atau yang lain. Terdapat asumsi bahwa Gurutta tidak menunjuk siapa yang menggantikannya karena seluruh ilmunya telah ditransfer kepada anak-anaknya baik itu anak biologisnya maupun anak idioligisnya. Sementara asumsi lain mengatakan bahwa Gurutta telah memberikan indikator tinggi kepada putranya DR. KH. Ali Rusydi AD melalui pembuatan sebuah SK yang kemungkinannya tidak dilegalisasi oleh pengurus DDI karena tidak setuju (Baca tulisan Sdr. Rahman Al Mahdaly).

Terlepas syah atau tidaknya, perebutan menuju tampuk kepemimpinan DDI pasca wafatnya Gurutta juga mengalami nasib yang sama pada saat Rasulullah wafat, sebagaimana yang terjadi pada Muktamar DDI ke-18 dan munculnya DDI-AD.

Perebutan menuju kepemimpinan ummat, setelah Rasullulah wafat mulai dari Khalifa Abu Bakar Assiddiq r.a. hingga ke Khalifa Ali Bin Abi Thalib, bukan saja telah menimbulkan munculnya kubu politik di kalangan ummat Islam kala itu, tetapi juga telah mengorbankan jiwa para kaum muslimin akibat perang antara kubu termasuk perang antara kaum muslimin dengan kaum yang murtad. Kondisi ummat Islam saat itu, memang sangat memprihatinkan bahkan telah mengancam kelangsungan dakwah Islam sebagaimana yang dialami DDI saat ini. Namun yang menarik dicatat dan selalu diapresiasi bahwa walaupun telah terjadi perebutan tampuk kekuasaan dan pertentangan antar kubu, para khalifa telah mampu membangun sebuah imperium Islam yang solid dan disegani oleh Imperium lainnya yang dicatat dalam sejarah sebagai masa keemasan Islam. Lebih dari itu, para khalifa telah mampu mengekspansi Islam bukan saja terbatas di Jazira Arabia akan tetapi menerobos hingga ke benua Afrika, Eropa dan Asia dalam tempo waktu 30 tahun yang didasarkan atas semangat ke-Islaman.

Perjuangan para Khalifa untuk mengembalikan semangat ummat Islam sebagaimana ketika Rasulullah masih hidup, menjadi sebuah prioritas utama bagi setiap khalifa dalam menjalankan fungsinya. Konsekwensinya, para Khalifa komitmen menghayati dan mengamalkan seluruh praktek yang telah dijalankan oleh Rasulullah selama hidupnya baik itu qauli, fi’li dan taqriri dalam menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi kaum muslimin. Lebih dari itu, para Khalifa telah mengorbankan harta dan jiwanya dalam rangka melestarikan ajaran Rasulullah dan menjadi suri teladan bagi kaum muslimin kala itu. Karena itu, Rasulullah dalam sebuah haditsnya bersabda Alaiukum bissunnati wassunatu khulafaurrasyidin . Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya peran yang dimainkan oleh para Khalifa dalam menegakkan Islam sehingga ummat Islam dituntut bukan saja bercermin kepada Nabi tetapi juga para sahabat dan khalifanya.

Kembali kepada prahara DDI, muncul sejumlah pertanyaan menarik, apakah para pemangku kekuasaan di DDI setelah Gurutta wafat telah mengaplikasikan sebagian besar prinsip-prinsip Gurutta dalam memimpin organisasi yang telah ditinggalkan?. Apakah mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai positif dalam hidup keseharian dan kemasyarakatan serta pendidikan dan dakwah sebagaimana yang pernah dilakukan Gurutta selama hidupnya? atau seperti yang dilakukan para khalifa terhadap Nabi. Atau apakah mereka berdiri pada kubu yang berpandangan, bahwa setelah Nabi meninggal, maka berakhirlah loyalitas terhadap Islam dan suku Arab? Sholat tidak perlu, zakat tidak perlu, haji tidak perlu dan kembali ke habitat semula karena semua dilakukan selama ini hanya karena Nabi. Atau mereka pada posisi kubu yang membait dirinya tanpa melalui musyawarah? Atau seperti Musaelamah Al Kazzab yang menyatakan dirinya sebagai Nabi di kaumnya ?. Atau sejauh mana kinerja dan loyalitas yang telah ditunjukkan dalam mengembangkan organisasi dalam tempo waktu 17 tahun yang sudah lebih separuh dari masa pemerintahan empat Khalifa dengan prestasi yang sangat cemerlang?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin dianggap tidak relevan bagi seseorang yang tidak ingin mengambil ibrah dari teks-teks Islam yang telah mengutarakan bagaimana semestinya tatanan kehidupan dalam sebuah komunitas dengan alasan bukan saja berbeda masa akan tetapi lebih dari itu anggapan sebagai manusia biasa dan bukan malaikat. Namun, menurut pandangan kami bahwa bercermin dan mengambil pelajaran kepada orang yang lebih baik adalah sebuah kemutlakan karena hidup dalam keindividuan justru akan menimbulkan sikap otoriter yang cenderung kepada penyelewengan kekuasaan. Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya perlu dikaji secara bersama untuk mengakhiri prahara di DDI. Paling tidak, untuk menghilangkan kubu-kubu yang ada dalam tubuh DDI yang selama ini bercerai berai sejak wafatnya Gurutta! atau memilih pemimpin yang memiliki integritas kebersamaan dan mampu menghimpun kembali seluruh kekuatan yang dimiliki DDI, sehingga warga DDI dapat kembali bernaung dalam satu atap menyongsong Purnama yang lebih cemerlang. -?

Muktamar DDI 2014 merupakan momentum yang paling berharga untuk mewujudkan hal tersebut di atas. Oleh karena itu diperlukan sebuah terobosan dini yang berani dan rasional dan mampu meramu semua pemikiran yang berkembang di DDI dalam sebuah konferensi atau rekonsiliasi yang melibatkan semua pihak. Ini hanya bisa dilakukan jika terdapat sebuah komunitas yang bersatu padu dalam mewujudkan hal itu.

Oleh karena itu, dan untuk sementara saya beranggapan bahwa harapan, hanya pada IAPDIKA. Karena ia adalah sebuah sarana yang telah tersedia untuk menjembatani semua kepentingan dalam tubuh DDI. IAPDIKA bukanlah sebuah kubu yang berusaha merongrong sebuah legalitas atau bertujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan dalam tubuh DDI. Akan tetapi ia adalah sebuah gerakan moral yang dibentuk oleh generasi muda DDI yang bertujuan mengembalikan nilai-nilai positif dalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat melalui DDI. IAPDIKA ibarat gerakan pemikiran Sunni yang muncul dan berkembang secara pesat untuk mengimbangi berbagai corak pemikiran yang berkembang pada era Khilafa yang umumnya didasarkan atas kepentingan politik dan golongan. Kalau kelompok Sunni memiliki dua tokoh utama sebagai rujukan yaitu, Imam Abi Hassan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi, maka IAPDIKA juga memiliki tokoh antara lain DR. KH. Ali Rusydi AD, Prof. DR. KH. Abd Rahim Arsyad dan Prof. DR. KH. Syamsul Bari Andi Galigo (2R+S).

Semoga Deklarasi IAPDIKA dan Seminar Nasional di Makassar terlaksana sesuai dengan waktunya. Amin ya rabbal alamin
Sekian
Posted by iapdika on February 15, 2013 at 5:20 AM

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

MyBukukuningLink

Bertukar link?



Copy kode di bawah masukan di blog anda, MyBukukuning akan segera linkback kembali. TRIMS!

Super-Bee

Popular Posts

BOOK FAIR ONLINE

Book Fair Online

Blog Archive

PENGOBATAN LANGSUNG DENGAN HERBAL ALAMI:

BURSA BUKU IAPDIKA: "KASIH SANG MERPATI" (Rp 25.000)

animated gifs
Info | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA

IAPDIKA GALERI:

animated gifs
Info: | KLIK: DI SINI | By IAPDIKA